Nahwa Media-Degradasi Moral Masyarakat Sasak menjadi sebuah fenomena sosial yang semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Istilah ini tepat menggambarkan perubahan perilaku masyarakat yang tidak lagi sejalan dengan nilai agama, budaya, dan adab yang selama ini menjadi identitas masyarakat Lombok sebagai “Pulau Seribu Masjid”. Ironinya, di tengah kuatnya simbol-simbol religius dan keberadaan ratusan pondok pesantren, berbagai perilaku menyimpang justru mendapat ruang dan perhatian luas di platform digital.
Salah satu kejadian yang menjadi sorotan ialah fenomena konten kreator yang rela menampilkan bagian intim tubuhnya melalui siaran langsung TikTok. Salah satu kasus yang beredar berasal dari akun Facebook berinisial N, yang memperlihatkan tindakan mengeksploitasi diri demi meningkatkan jumlah penonton. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori uses and gratifications, sebagaimana disampaikan Saputra (2019), bahwa media sosial sering digunakan untuk mencari validasi, hiburan, dan popularitas instan. Ketika popularitas menjadi tujuan utama, batas-batas moral pun ditabrak, dan kreativitas yang seharusnya bernilai justru berubah menjadi eksploitasi.
Tidak berhenti di situ, marak pula video goyang erotis atau anco-anco yang tersebar di platform sosial, seperti unggahan akun Facebook berinisial I. Pertunjukan semacam ini memperlihatkan hilangnya estetika seni dan budaya Sasak, yang sebelumnya kaya dengan nilai melalui wayang Sasak, kecimol, maupun gendang beleq. Kini, sebagian hiburan lokal berubah menjadi tontonan sensual yang menggeser nilai moral dan budaya.
baca juga: Aplikasi SETARA Pemuda NW Diluncurkan Wabup Lombok Timur: Digitalisasi Menuju Lombok Timur Smart
Dalam pendekatan teori komodifikasi (Surahman, Annisarizki & Rully, 2019), tubuh dan sensualitas menjadi objek komersial demi menarik pasar yang menyukai sensasi. Kondisi ini menunjukkan bukan hanya persoalan individu, tetapi lemahnya regulasi pemerintah serta kurangnya pemahaman masyarakat tentang batas antara seni, hiburan, dan vulgaritas. Jika tidak diatasi, generasi muda berpotensi kehilangan teladan budaya dan menggantinya dengan standar popularitas semata.
Fenomena lainnya terlihat dari perilaku tidak pantas seorang pengantin pria dalam prosesi nyongkolan, terekam melalui akun Facebook nerinisial A. Tindakan menaiki motor orang tua dengan cara yang menunjukkan kurangnya sopan santun bertentangan dengan nilai sakralnya nyongkolan sebagai simbol kebahagiaan, hormat, dan awal kehidupan rumah tangga. Dari perspektif sosiologi, ini menunjukkan degradasi cultural capital, yaitu hilangnya pemahaman nilai budaya karena dominasi budaya visual dan gaya hidup instan (Yasin & Lestari, 2024).
Ironi semakin terasa ketika berbagai perilaku tersebut muncul di tengah lingkungan yang sarat dengan simbol religius. Muncul kesenjangan antara keberagamaan formal dan keberagamaan substantif, atau disebut religiosity gap. Masjid dan pesantren tidak otomatis membentuk moral jika nilai-nilainya tidak diinternalisasi dalam keluarga, pendidikan, dan ruang digital. Masyarakat perlu bertanya kembali: apakah keberagamaan selama ini sekadar simbol, atau sudah menjadi karakter?
Dampak degradasi moral ini sangat serius bagi anak-anak dan remaja. Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa paparan konten vulgar dapat menurunkan sensitivitas moral, meningkatkan imitasi perilaku negatif, dan mengganggu perkembangan konsep diri. Di era digital, apa yang viral sering dianggap benar, sehingga tanpa pengawasan orang tua dan literasi digital, generasi muda dapat kehilangan kompas moral.
Karena itu, berbagai fenomena ini bukan sekadar masalah individu yang mencari sensasi, melainkan gambaran kompleksitas masalah sosial yang terjadi di Lombok. Diperlukan langkah konkret mulai dari penguatan literasi digital berbasis nilai moral, peran aktif keluarga dalam mendidik etika, regulasi tegas terhadap konten vulgar, hingga revitalisasi budaya Sasak agar kembali menjadi pedoman hidup masyarakat.
Dengan sumber daya moral dan budaya yang kuat, Lombok sebenarnya memiliki modal untuk membendung degradasi moral. Namun, tanpa pengelolaan yang tepat, nilai-nilai luhur ini akan kalah oleh budaya digital yang serba instan. Inilah saatnya masyarakat Sasak kembali menjunjung adab sebagai jati diri.
baca juga: Degradasi Moralitas dan Tantangan Pendidikan Indonesia
Penulis: Ahmad Sirojul Hakiki
Editor: Irna Damayanti
![]()


