PendidikanOpini

Kenapa Konten Reels Instagram selalu Relate? Karena Kamu Sedang Dipantau.

2 Mins read

Abdul Hanan menyampaikan materi saat Workshop Literasi Digital

Pernah nggak kita tiba-tiba melihat postingan yang “pas banget” dengan apa yang kita suka? Itu sebenarnya bukan kebetulan. Setiap kali kita scrolling, like, atau berhenti lama pada sebuah konten, media sosial sedang membaca kebiasaan kita. Algoritma mereka memantau apa saja yang menarik perhatian kita, lalu menampilkan konten yang sesuai.

Setiap kali kita menulis status di Facebook, Twitter, Instagram, atau TikTok, sebenarnya kita sedang menulis “sejarah” diri kita sendiri. Tanpa sadar, kita meninggalkan jejak digital—foto, komentar, aktivitas, dan kebiasaan kita. Semua itu berubah menjadi data.

Artinya, setiap kali kita upload foto atau menulis status, kita sedang memproduksi data kita sendiri. Inilah yang disebut tren big data (ledakan data). Yaitu data yang sangat banyak, terus tumbuh, dan memengaruhi informasi apa yang muncul di layar kita meski kita tidak pernah mencarinya.

Karena itu, penting bagi kita semua untuk lebih sadar, lebih bijak, tidak mudah dikendalikan oleh apa yang muncul di layar, dan mampu memanfaatkan data untuk hal yang lebih bermanfaat.

Ada Tiga Tantangan Besar Hidup di Era Big Data dan Solusinya (Hasanuddin Ali, 2024)

1. Information Overload — Hidup dalam Banjir Data

Tantangan:

Kita dikepung lautan informasi setiap detik. Notifikasi, FYP, reels, story, artikel, iklan, semua bersaing memperebutkan atensi. Akibatnya, otak kewalahan membedakan mana penting dan mana yang hanya “penyedot waktu”.

Solusinya adalah:

Kembangkan kemampuan literasi digital, filter informasi, kurangi konsumsi pasif, dan tentukan batasan—mulai dari manajemen waktu layar sampai disiplin memilih sumber yang kredibel.

2. Personalization Trap — Terjebak Dalam Algoritma

Tantangan:

Platform membaca kebiasaan kita, lalu menyajikan konten yang “mirip diri kita banget”. Padahal itu bukan “takdir”, hanya hasil perhitungan algoritma. Efeknya: hidup terasa relatable padahal kita sedang masuk ke filter bubble dan ruang gema.

Solusinya adalah: 

Lawan bias algoritma dengan mencari perspektif berbeda, mengikuti akun edukatif, membaca konten di luar minat, dan aktif mengatur preferensi pada aplikasi. Kita harus menjadi subjek yang sadar, bukan objek yang dibentuk.

3. Digital Manipulation — Kita Dikendalikan Data Tanpa Sadar

Tantangan:

Big data membuat perilaku manusia bisa diprediksi—dan karena bisa diprediksi, ia bisa diarahkan. Konten sensasional, iklan, propaganda politik, hingga tren daring mudah menggiring emosi dan keputusan kita.

Solusinya adalah:

Bangun kesadaran kritis dan self-awareness. Selalu tanya: “Siapa yang diuntungkan jika saya percaya atau membagikan ini?” Biasakan cek silang, pahami konteks, dan gunakan logika, bukan sekadar emosi.

Sehingga, hidup di era big data bukan hanya soal kemampuan mengakses informasi, tetapi bagaimana kita tetap menjadi manusia yang merdeka dalam mengambil keputusan. Tantangan terbesar bukan pada datanya, melainkan pada kemampuan kita mengelola diri di tengah data yang tak terbatas. Kedewasaan digital menjadi kebutuhan baru agar manusia tidak kehilangan orientasi, jati diri, dan masa depannya.

Ada beberapa saran untuk Generasi Saat Ini:

1. Jangan percaya bahwa semua konten “terasa relate” itu benar-benar tentang kamu, itu hanya algoritma yang bekerja sangat cerdas.

2. Bangun kebiasaan cek kebenaran sebelum bereaksi. Dunia digital penuh jebakan emosional.

3. Atur diet informasi. Apa yang kamu konsumsi setiap hari membentuk pola pikir, karakter, hingga masa depan.

4. Belajar literasi data, meskipun sederhana. Cara membaca grafik, mengenali bias, memahami pola, dan menilai kredibilitas.

5. Jaga kesehatan mental digital, jangan biarkan validasi virtual menjadi standar harga diri.

Oleh sebab itu, di tengah derasnya arus informasi saat ini, kita perlu menjadi pengguna digital yang melek data. Bijak memilih, cerdas memilah, dan berani berhenti sejenak sebelum percaya atau membagikan sesuatu. Gunakan teknologi sebagai alat untuk berkembang, bukan sebagai pengendali. Jadikan big data sebagai peluang untuk belajar, berkarya, dan memperbaiki diri, bukan sebagai jebakan yang membuat kita kehilangan arah.

penulis: Abdul Hanan
Editor: Irna Damayanti

sumber: Kompasiana.com

 

 

Related posts
PendidikanInternasional

Mahasiswi Asal Lombok Timur Tembus Forum Ilmiah Dunia di University of Oxford

1 Mins read
Kabar membanggakan datang dari Lombok Timur. Seorang mahasiswi asal Anjani, Suralaga, Fatimatuzzahro’ Sholehuddin, berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional dengan mempresentasikan…
PesantrenPendidikan

Kunjungan Wakil Menteri di YANMU NW Praya Dorong Sinergi Pendidikan Pesantren

1 Mins read
Lombok Tengah – Kunjungan Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A (Wamen Dikdasmen RI) ke Pondok Pesantren Munirul Arifin NW Praya berlangsung penuh…
Pendidikan

Wabup Lombok Tengah Lepas Keberangkatan Muhamad Daden Pratama ke KTT Asia-Pasifik di Filipina

1 Mins read
PRAYA – Dukungan penuh mengalir dari Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah untuk putra daerah yang berprestasi di kancah internasional. Wakil Bupati Lombok Tengah,…
Berlangganan dengan kami NAHWA MEDIA

Dapatkan Informasi Ter Update Bila Anda Belangganan Dengan Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *