DakwahNWOpini

Ini Soal Transformasi Juang. Titik!

5 Mins read

Oleh : MDP | Manusia Biasa

 

Ini Soal Transformasi Juang. Titik!

1 Maret 1953—tepat pada 15 Jumadil Akhir 1372 H. Sebuah titik mula sejarah ditorehkan di pulau yang sekarang dikenal dengan sebutan pulau seribu masjid dan madrasah: Lombok. Lahir dari restu Guru Al-Magfurulah Maulana Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyath dan kedalaman rasa gelisah Al-Magfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atas masa depan umat. Momentum ini kemudian di kenang dalam Wasiat Renungan Masa:

Bahwa di Lombok sebelum ini,
Paham Animis anutan asli,
Sewaktu-waktu didatangi Dai,
Akhirnya lahir Sulthan Rinjani”. (WRM, hal 21).

Bait ini menegaskan bahwa dari wilayah yang dulunya minim dakwah dan didominasi paham animisme, intervensi dakwah Maulana Syaikh berhasil mengubah kultural Lombok menjadi pusat peradaban Islam. Dari rahim perubahan radikal inilah lahir sebuah pergerakan besar bernama Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air). Yang sejak awal kelahirannya, Nahdlatul Wathan (NW) dikondisikan sebagai agent of change.

Organisasi yang berlandaskan Iman dan Taqwa ini dibentuk untuk mewadahi dan mengkoordinasikan dua madrasah yang sudah berdiri sebelumnya, yaitu NWDI (Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah) untuk putra dan NBDI (Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah) untuk putri. Yang kemudian memiliki fokus pada isu pendidikan, sosial, dan dakwah Islam berhaluan Ahlussunah wal Jamaah berlandaskan mazhab Syafi’i dengan semboyan yang dirumuskan pendirinya : “Pokoknya NW, Pokok NW Iman dan Taqwa”.

Sejarah mencatat, jalan yang ditempuh tidak pernah mulus. Sejak didirikannya, Nahdlatul Wathan dihadapkan dengan berbagai penolakan, dihantam badai hambatan, bahkan harus melewati ujian mahaberat pasca-wafatnya Maulana Syaikh—ketika oknum-oknum tak bertanggung jawab mencoba memecah belah demi syahwat kepentingan. Namun, emas tetaplah emas. Sejarah justru menempa sebuah kapal besar ini menjadi semakin kuat dan berlayar jauh kedepan demi mewujudkan cita-cita luhurnya: lil’ilaikalimatillah Wal Izzil Islam Wal Muslimin memiliki arti “Untuk meninggikan kalimat Allah (Agama Islam) dan memuliakan Islam serta kaum Muslimin.” Maulana berkeyakinan :

“Nahdlatul Wathan berjalan terus,
Siang dan malam tidak terputus,
Meskipun dahsyat gelombang arus,
Dalam lindungan Ilahi Al-Quddus” (WRM, hal 28).

Keyakinan inilah membawa NW sejatinya memiliki “daya hidup” yang melampaui zaman karena berada dalam lindungan Ilahi (Al-Quddus). Oleh karena itu, bagi kader hari ini, banyaknya konflik internal atau eksternal seharusnya tidak boleh membuat kita ciut atau berhenti bergerak, sebab organisasi ini didesain untuk berjalan terus tanpa putus.

Kini, Nahdlatul Wathan sudah tersebar ke seluruh penjuru Nusantara dari pulau terkecil hingga belahan dunia. Memayungi lebih dari 2.000 lembaga pendidikan, NW telah menjelma menjadi salah satu rahim terbesar yang melahirkan kader umat dan kader bangsa. Dalam pembuka wasiatnya tertulisnya, Maulana Syaikh memberikan peringatan keras: “Organisasi NW adalah ciptaan gelora NWDI dan NBDI untuk melebarkan sayap pendidikannya. Karena itu wajiblah bagi benihan (putra-putri) NWDI dan NBDI bersama-sama aktif membela memperjuangkan cita-cita NW sekuat tenaga. Mereka yang pasif atau menghalanginya adalah meninggalkan wajib dan meninggalkan kewajiban sendiri” (WRM, Hal 7).

Kuatkan Optimisme Kemajuan…

Pada usianya ke 73 tahun yang terbilang masih muda, perjalanan sebuah organisasi besar tidak ditentukan oleh seberapa megah sejarah masa lalunya dan seberapa banyak capaian nya saat ini, melainkan oleh seberapa tangguh ia menjawab tantangan masa depannya. Bagi saya Nahdlatul Wathan, hari ini tidak sedang berada dalam zona nyaman untuk sekadar bertahan (survive), melainkan berada di tengah pusaran zaman yang menuntut satu hal: Transformasi Juang. Inilah kemudian yang menjadi momentum krusial bagi seluruh kader untuk bangkit, memulai mengambil peran untuk menjadi penentu arah dalam persaingan global bersanding dengan ormas-ormas besar lainnya di Indonesia.

Langkah dalam transformasi ini adalah Menguatkan Optimisme Kemajuan. Optimisme bagi kader NW hari ini tidak boleh lagi berupa angan-angan kosong, sekadar memuji-muji figuritas (tanpa mewarisi api perjuangannya), atau kejayaan yang masa lalu tanpa mampu mereplikasinya di masa kini. Optimisme (dalam kondisi sikap kritis dan konstruktif dalam meluruskan dan mendukung arah perjuangan organisasi) yang harus berbasis pada kompetensi nyata. Kita harus percaya diri bahwa dengan modal intelektualitas dan spiritualitas yang kokoh, kader NW harus mampu menguasai sains, teknologi, ekonomi digital, dan instrumen kebijakan publik, yang kemudian menjadikan indikator kemajuan organisasi tidak lagi diukur dari seberapa hebat kita menguasai kandang (dalam pribahasa “Bagai katak dalam tempurung”), melainkan dari seberapa banyak kader yang mampu tampil sebagai “agent of problem solver” di tingkat nasional dan internasional.

Masa Depan Nahdlatul Wathan!

Masa Depan Nahdlatul Wathan berada di pundak generasi baru yang menuntut transparansi, profesionalisme, dan aksi nyata. Masa depan organisasi ini tidak lagi dinilai dari seberapa besar jumlah jemaah yang memadati pengajian, melainkan seberapa besar “impact” atau dampak sosial-ekonomi yang mampu kita berikan kepada umat. Oleh karena itu, potensi ribuan madrasah, kader, dan abituren tidak boleh dieksploitasi layaknya “sapi perah”, melainkan harus dioptimalkan agar tumbuh menjadi motor penggerak yang mandiri dan kreatif. Kaderisasi modern harus berbasis pemberdayaan (empowerment), di mana setiap ruang belajar dan madrasah bertransformasi menjadi inkubator inovasi. Maka kita perlu membangun ekosistem di mana santri tidak hanya pandai mengaji, tetapi juga melek digital, mandiri secara ekonomi, dan peka terhadap isu-isu sosial kontemporer.

Menghadapi zaman yang penuh dengan ketidakpastian dan dinamisnya peradaban, NW harus berani menjadi organisasi yang bagus secara struktural birokrasi dari bawah sampe pusat dengan sistem “meritokrasi” (penempatan jabatan di dalam organisasi harus didasarkan pada kemampuan, dedikasi, rekam jejak, dan integritas seseorang) kalau dalam bahasa kerennya “the right man on the right place” bukan dengan sistem “anak siapa harus jadi apa” artinya semua elemen, tanpa terkecuali, harus tunduk di bawah sistem yang disepakati bersama. Dari kepatuhan pada sistem inilah kemudian akan melahirkan kultur organisasi yang inklusif dan progresif (terbuka terhadap berbagai kalangan dan memiliki cara pandang yang maju, terbuka terhadap inovasi, serta adaptif terhadap perubahan zaman), tentunya modern dalam tata kelola (baik dalam hal administrasi, keuangan, pendidikan, maupun program kerja—harus menggunakan sistem yang profesional, akuntabel, dan berbasis teknologi). Karena hanya dengan cara inilah NW dapat melahirkan para pemimpin yang transformatif membawa nilai-nilai keislaman dan kebangsaan untuk mengisi ruang-ruang strategis dengan spirit trilogi perjuangan: yakin, ikhlas, dan istiqomah dalam mengabdi kepada ummat dan bangsa. Sebagaimana yang dicita-citakan maulana:

Sungguh besarlah jasa seorang,
Yang zahir batinnya untuk berjuang,
Memimpin ummat ke jalan yang terang,
Adil makmur kebenaran gemilang”
(WRM, hal 69).

Maulana seakan-akan menggarisbawahi tentang kriteria kepemimpinan yang berdampak (impactful leadership). Seharusnya jasa seorang pemimpin di NW tidak dinilai dari retorika atau garis keturunannya, melainkan dari totalitas lahir batinnya dalam membawa umat keluar dari kegelapan menuju “jalan yang terang” serta mewujudkan kesejahteraan yang “adil makmur”. Sebab kesejahteraan dan kemajuan umat inilah yang menjadi indikator keberhasilan organisasi.

Janji Pendirian…!

Semua gerak maju ini bermuara pada satu janji suci, yaitu “Janji Pendirian untuk Membela Agama, Bangsa, dan Negara Melalui Pendidikan, Sosial, dan Dakwah yang Berkelanjutan”. Warisan luhur dari Al-Magfurulah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid inilah yang barangkali menjadi fondasi yang tak boleh bergeser sedikit pun. Namun, menunaikan janji tersebut di era modern membutuhkan new strategy (strategi baru). Pendidikannya harus bertransformasi ke arah digitalisasi, riset mendalam, dan penguasaan bahasa asing. Sektor sosialnya harus berkovensi menjadi kemandirian ekonomi. Sementara dakwahnya harus merambah ke ruang digital dengan konten yang inklusif, mencerahkan, dan berbasis data agar mampu memikat generasi muda.

Sebagai pengingat untuk mencapai level tersebut, kita harus berani melakukan otokritik yang jujur dan konstruktif. Kader NW harus berhenti menghabiskan energi untuk konflik internal atau ego sentrisme kelembagaan. Karena musuh nyata NW hari ini bukanlah sesama saudara, melainkan kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan teknologi… Saatnya melakukan rekonsiliasi gagasan besar!Selain itu, kekuatan finansial (kemandirian ekonomi) harus mulai dibangun secara serius melalui ekosistem bisnis modern dan holding usaha, sebab kedaulatan ekonomi adalah pilar utama agar marwah organisasi di tingkat nasional disegani.

Pada akhirnya, Transformasi Juang Nahdlatul Wathan bukanlah tentang mengubah apa yang telah ditanam oleh Maulanasyaikh, melainkan tentang bagaimana kita merawat, mengembangkan, dan memajukan di new era. Perhatikan amanat Maulana :

“Anakku kalian kuamanatkan:
Membela teguh Nahdlatul Wathan,
Kompak utuh sepanjang zaman,
Iman Taqwa diperjuangkan” (WRM, hal 74).

Wasiat ini berfungsi prinsip gerakan kita. Di tengah gempuran modernisasi, teknologi, dan ekonomi makro, Maulana mengingatkan bahwa esensi perjuangan kader tidak boleh bergeser dari poros aslinya: membela NW dengan komitmen keutuhan (kompak utuh) serta menjadikan Iman dan Taqwa yang mendalam sebagai fondasi utamanya. Namun yang menjadi tiang-tiang bangunannya adalah teknologi, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Dengan kesatuan visi ini, Nahdlatul Wathan tumbuh menjadi “New Islamic Civilization” yang memimpin kemajuan ummat dan bangsa… Dan ingatlah wejangan ini menjadi tameng integritas kita sebagai pejuang :

“NW alat penegak Iman,
Penegak takwa ajaran Tuhan,
Bukan alat mencari makan,
Mencari kursi melelang iman” (WRM, hal. 43)

Sembari kita mengejar kemajuan birokrasi, meritokrasi, dan kedaulatan ekonomi, wasiat ini memperingatkan dengan tegas agar Transformasi Juang tidak melenceng menjadi pragmatisme politik. Karena NW adalah kendaraan suci untuk menegakkan nilai Tuhan, bukan komoditas atau alat transaksional untuk mencari keuntungan materi pribadi maupun alat “lelang iman” demi sebuah kursi kekuasaan. Sekali Lagi, ini bukan soal keluh kesah. Ini Soal Transformasi Juang. Titik!

Related posts
Opini

Sekolah Rakyat Mengingatkan Generasi Muda bahwa Pendidikan Belum Merata

2 Mins read
Nahwa Media-Pembangunan pendidikan di Indonesia terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Berbagai program diluncurkan pemerintah untuk memperluas akses belajar bagi seluruh…
Opini

Kontroversi Film Dokumenter Pesta Babi dan Buramnya Demokrasi Indonesia

3 Mins read
Penulis: Heru Kurniawan(Kader HMI Nurcholish Madjid) Editor: Irna Sj Kontroversi film dokumenter Pesta Babi membuka perdebatan tentang kebebasan berekspresi, ruang diskusi publik,…
OpiniKeislaman

Suci di Luar, Busuk di Dalam? Pakaian Religius Adalah Topeng Paling Rapi

2 Mins read
    Suci di Luar, Busuk di Dalam? Pakaian Religius Adalah Topeng Paling Rapi Di era ketika citra lebih cepat dipercaya daripada…
Berlangganan dengan kami NAHWA MEDIA

Dapatkan Informasi Ter Update Bila Anda Belangganan Dengan Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *