KebangsaanOpiniSosial

Pengangguran Pemuda NTB Rendah, Apakah Pasar Kerja Sudah Berpihak pada Anak Muda?

1 Mins read

Pengangguran Pemuda NTB Rendah, Apakah Pasar Kerja Sudah Berpihak pada Anak Muda?

Pengangguran Pemuda NTB kini menjadi sorotan nasional. Provinsi ini berhasil masuk lima besar daerah dengan tingkat pengangguran pemuda terendah di Indonesia. Di tengah kekhawatiran anak muda soal sulitnya mencari kerja, capaian ini tentu terdengar melegakan. Namun, pertanyaannya: apakah ini benar-benar mencerminkan kondisi kerja yang ideal bagi pemuda?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pemuda di NTB berada di angka 6,91 persen. Angka tersebut menempatkan NTB di posisi keempat nasional, sejajar dengan provinsi yang dinilai memiliki pasar kerja pemuda relatif stabil.

baca juga: NTB Masuk Lima Besar Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Pemuda Terendah di Indonesia

Di lapangan, realitasnya tidak sesederhana angka. Banyak pemuda NTB memilih bekerja di sektor informal—mulai dari pariwisata, pertanian, perikanan, hingga usaha kecil berbasis komunitas. Bagi sebagian dari mereka, bekerja bukan soal idealisme, tetapi soal bertahan hidup dan tetap produktif.

Kondisi ini menunjukkan satu hal penting: rendahnya pengangguran tidak selalu berarti tingginya kualitas pekerjaan. Masih banyak pemuda yang bekerja tanpa jaminan pendapatan tetap, tanpa perlindungan sosial, dan tanpa ruang pengembangan keterampilan jangka panjang.

Bagi aktivis muda, isu Pengangguran Pemuda NTB seharusnya dibaca lebih kritis. Tantangan utama bukan hanya menyediakan lapangan kerja, tetapi memastikan pekerjaan tersebut layak, berkelanjutan, dan inklusif. Pemuda desa, perempuan, dan kelompok rentan masih menghadapi hambatan akses terhadap pelatihan dan peluang ekonomi.

Di sisi lain, capaian NTB juga membuka peluang. Rendahnya pengangguran bisa menjadi modal kuat untuk mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada pemuda. Investasi pada pelatihan keterampilan, dukungan bagi wirausaha muda, serta kolaborasi komunitas menjadi langkah penting agar pemuda tidak hanya bekerja, tetapi juga tumbuh.

Pengangguran pemuda yang rendah seharusnya tidak membuat semua pihak berpuas diri. Justru inilah momentum bagi anak muda NTB untuk bersuara, terlibat, dan ikut menentukan arah kebijakan ketenagakerjaan. Karena masa depan kerja tidak hanya soal angka hari ini, tetapi soal keadilan dan keberlanjutan esok hari.

Pengangguran Pemuda NTB boleh rendah, tetapi perjuangan anak muda untuk mendapatkan pekerjaan yang layak masih terus berjalan.

baca juga: KNPI Loteng Peringatkan Pengerukan Mandalika, Desak Penghentian dan Penegakan Hukum

Related posts
KeislamanOpiniPendidikan

Memudarnya Ashabiyah dalam Organisasi Mahasiswa Daerah: Refleksi IPNW Kalsel

9 Mins read
Penulis: Aksara Sosial (Muhammad Najib Ali) Editor: Irna Damayanti Memudarnya ashabiyah dalam organisasi mahasiswa daerah kini menjadi isu krusial yang kerap luput…
LocalPendidikanPesantrenSantriSosial

Siapkan Santri Jadi Penggerak Media, Ponpes Ahlussunnah NW Otak Kebon Gelar Workshop Literasi Digital

1 Mins read
Lombok Timur–Pondok Pesantren Ahlussunnah NW Otak Kebon menggelar Workshop Literasi Digital bertema “Transformasi Santri Menjadi Penggerak Media Kreatif” pada Sabtu (11/7/2026). Kegiatan…
AqidahKeislamanOpini

Kecerdasan Nabi Muhammad: Membaca Ulang Mukjizat Aqliyah untuk Peradaban Modern

3 Mins read
Kecerdasan Nabi Muhammad merupakan salah satu mukjizat terbesar Rasulullah SAW yang relevansinya terus hidup sepanjang zaman. Berbeda dengan mukjizat yang bersifat kauniyah,…
Berlangganan dengan kami NAHWA MEDIA

Dapatkan Informasi Ter Update Bila Anda Belangganan Dengan Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *