Nahwa Media-Kepemimpinan Perempuan bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak di tengah dunia yang dipenuhi krisis moral, sosial, dan ekonomi. Sudah terlalu lama perempuan dididik untuk menjadi pendukung yang baik di balik layar menjaga harmonisasi, bersikap santun, dan menunggu giliran untuk bicara. Sementara itu, panggung-panggung strategis justru diisi oleh mereka yang dominan dan vokal.
Akibatnya, ketika kebijakan publik amburadul dan ketidakadilan terjadi di berbagai lini kehidupan, banyak perempuan cerdas memilih diam. Mereka menjadi penonton, hanya berani berbisik di ruang privat. Padahal, diamnya perempuan adalah kerugian besar bagi peradaban.
Fenomena imposter syndrome sering menghantui. Perasaan bahwa suara kita tidak cukup ahli, tidak cukup keras, atau tidak cukup penting membuat banyak perempuan ragu melangkah. Kita merasa panggung kepemimpinan hanya milik segelintir orang. Padahal, kepemimpinan perempuan justru menghadirkan perspektif empati, ketelitian, dan keberpihakan yang sangat dibutuhkan dunia saat ini.
Belajar dari Kartini: Pengaruh Lahir dari Keberanian
Jika membutuhkan bukti bahwa satu suara perempuan mampu mengguncang dunia, kita dapat belajar dari R. A. Kartini. Dalam keterbatasan ruang gerak akibat tradisi dan kolonialisme, Kartini tidak membiarkan pikirannya terkurung. Melalui surat-suratnya, ia membangun pengaruh tanpa jabatan formal.
Ia tidak memiliki media sosial, tetapi ia memiliki pena. Ia tidak berdiri di podium orasi, tetapi gagasannya melampaui zamannya. Kartini membuktikan bahwa pengaruh lahir dari keberanian menyuarakan kebenaran, bukan dari gelar atau posisi struktural.
Dari sana, kita memahami bahwa kepemimpinan perempuan tidak selalu identik dengan kursi pemerintahan atau jabatan publik. Kepemimpinan lahir ketika perempuan berani mengambil ruang, menyampaikan gagasan, dan berdiri di tengah isu-isu strategis.
Panggung Itu Ada di Genggaman Kita
Kabar baiknya, perempuan hari ini hidup di era yang jauh lebih terbuka. Panggung itu tersedia di ruang akademik, organisasi, komunitas, bahkan di genggaman ponsel masing-masing. Media digital memungkinkan suara perempuan menjangkau audiens luas tanpa harus menunggu legitimasi formal.
Namun, keberanian tetap menjadi kunci. Kita harus berhenti meminta izin untuk menjadi penting. Dunia yang compang-camping akibat krisis ekonomi, degradasi moral, dan ketimpangan sosial membutuhkan sentuhan kepemimpinan perempuan yang berlandaskan empati dan ketegasan.
Sejarah tidak pernah mencatat mereka yang hanya menjadi penonton. Sejarah mencatat mereka yang turun ke gelanggang, mengambil pengeras suara, dan membuat gagasannya bergema.
Maka, berhentilah sekadar memberi “like” pada perjuangan orang lain. Naiklah ke panggung itu. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak bayang-bayang. Dunia membutuhkan perempuan yang berdiri di garis depan dan memimpin perubahan.
Baca juga: Safari Ramadhan Tullab Ma’had Darul Qur’an Wal Hadist NW Anjani Isi Pesantren Kilat di Desa Mantun
Foto: Ernita Sulispiani (Kader HMI komisariat Nurcholis Madjid cabang selong)
![]()


