“Perempuan sekolah tinggi untuk apa? Ujung-ujungnya juga di dapur.”
Kalimat ini mungkin terdengar biasa. Namun di baliknya tersimpan pesan lama yang masih hidup sampai hari ini: mimpi perempuan dianggap tidak perlu terlalu jauh.
Banyak perempuan belajar keras, mengejar pendidikan, bahkan membangun karier dengan penuh perjuangan. Mereka melewati malam-malam panjang untuk belajar, menghadapi keraguan, dan berusaha membuktikan kemampuan mereka. Namun ironisnya, ketika mereka berhasil, yang muncul justru pertanyaan lain: “Tidak takut laki-laki jadi minder?” Seolah keberhasilan perempuan adalah ancaman, bukan sesuatu yang patut dihargai.
Stigma Lama terhadap Pendidikan Perempuan
Padahal sejarah telah menunjukkan bahwa perempuan yang kuat, cerdas, dan mandiri bukanlah hal baru. Dalam sejarah Islam, kita mengenal Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi Muhammad SAW, ia adalah seorang pengusaha sukses yang memimpin perdagangan besar pada masanya.
Ia bukan hanya dikenal karena kekayaannya, tetapi juga karena kebijaksanaan, keteguhan, dan dukungannya yang luar biasa dalam membangun keluarga dan peradaban. Kisahnya menjadi bukti bahwa kecerdasan dan kemandirian perempuan tidak pernah menjadi penghalang bagi kehormatan, keluarga, maupun keimanan.
Stereotip Gender yang Masih Bertahan
Meski demikian, sampai hari ini masih banyak perempuan yang harus menghadapi stigma ketika mereka ingin berkembang. Berbagai penelitian tentang stereotip gender menunjukkan bahwa masyarakat sering tanpa sadar menempatkan perempuan dalam batas-batas tertentu.
Ketika perempuan memilih belajar tinggi atau mengejar karier, sebagian orang masih melihatnya sebagai sesuatu yang “tidak biasa.” Bukan karena perempuan tidak mampu, tetapi karena cara pandang lama masih bertahan di tengah masyarakat.
Hambatan ini sering tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata. Banyak perempuan tumbuh dengan pesan-pesan halus yang membuat mereka meragukan diri sendiri: jangan terlalu menonjol, jangan terlalu ambisius, jangan terlalu jauh melangkah.
Pendidikan Perempuan dan Masa Depan Generasi
Padahal ketika seorang perempuan belajar dan berkembang, manfaatnya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Anak-anak pertama kali belajar dari ibunya—belajar berbicara, memahami emosi, dan mengenal dunia.
Penelitian tentang kesejahteraan perempuan juga menunjukkan bahwa pendidikan dan pengalaman seorang ibu memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosional, sosial, dan intelektual anak-anaknya
Perempuan Cerdas Bukan Ancaman
Sayangnya, masih ada anggapan bahwa perempuan pintar akan membuat laki-laki merasa kalah. Dalam psikologi sosial, perasaan terancam seperti ini sering muncul karena tekanan norma lama tentang maskulinitas.
Padahal hubungan yang sehat tidak dibangun dari siapa yang lebih unggul, tetapi dari dua orang yang saling menguatkan.
Perempuan yang cerdas bukan ancaman. Mereka adalah mitra yang bisa berpikir bersama, mengambil keputusan bersama, dan membangun kehidupan yang lebih matang.
Ketika laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bukan saling menyaingi, di situlah keluarga dan masyarakat bisa tumbuh lebih kuat.
Pada akhirnya, perempuan yang belajar bukan sedang melawan siapa pun. Mereka hanya menolak hidup dalam batas yang dibuat oleh orang lain. Mereka memilih untuk berkembang, memahami dunia dengan lebih luas, dan memberi manfaat yang lebih besar bagi kehidupan di sekitarnya.
Perempuan cerdas bukan lawan, melainkan ia adalah mitra peradaban.
Oleh: Mustika Rosyida (Kabid Pemberdayaan Perempuan HMI Nurcholish Madjid Selong)
Referensi:
1. Fighting the Stigma: Tren Wanita Karier yang Menyalahi Norma Sosial. (2025). Jurnal Gender dan Studi Anak, Universitas Negeri Surabaya.
2. Kesetaraan Gender dalam Lingkup Pendidikan dan Tata Sosial. (2023). Jurnal Studi Gender Indonesia.
3. Stereotip Gender dan Kesejahteraan Perempuan. (2023). Asian Journal of Women’s Studies.
![]()


