OpiniKeislaman

Ramadan dan Makna Tadarus yang Sering Terlupakan: Spirit Iqra’ (literasi) dalam Tradisi Tadarus

3 Mins read

Oleh: Abdul Hanan, M.Sos. (Dosen Fak. Dakwah IAI Hamzanwadi NW Lotim)

Setiap tahun umat Islam melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh pada bulan Ramadan dalam kalender Hijriyah. Ibadah puasa tidak hanya dimaknai sebagai upaya menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi juga merupakan momentum spiritual untuk meningkatkan kualitas ketakwaan melalui berbagai bentuk ibadah lainnya. Dalam konteks ini, Ramadan memiliki kedudukan yang istimewa karena berbagai amal kebaikan yang dilakukan di dalamnya memiliki nilai keutamaan yang lebih besar dibandingkan dengan pelaksanaannya pada bulan-bulan lainnya. Oleh karena itu, bulan Ramadan menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, memperdalam penghayatan spiritual, serta memaksimalkan berbagai amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dari sekian banyak ibadah-ibadah yang dikerjakan, orientasi utamanya adalah harus mampu memberikan dampak yang baik agar tiap ibadah yang dikerjakan tidak hanya menjadi rutinitas saja namun dapat memberikan dampak yang signifikan baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Kita berpuasa, melaksanakan qiym al-lail (shalat tarawih dan ibadah malam lainnya), bersedekah, dan membaca al-Qur’an, namun kadang tidak sepenuhnya memberikan perubahan yang lebih berarti dalam kehidupan. Padahal momentum Ramadan ini seharusnya menjadi kesempatan yang paling berharga untuk naik kelas baik secara spiritual, intelektual, moral, maupun sosial sehingga setelahnya kita bisa menjadi insan-insan yang lebih baik dari sebelumnya.

Hal tersebut ditegaskan oleh Allah Swt. dalam al-Qur’an ketika menjelaskan fungsi dan tujuan diturunkannya al-Qur’an, yaitu sebagai petunjuk (al-hidyah) bagi manusia, yang secara langsung berkaitan dengan ayat tentang kewajiban berpuasa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Al-Baqarah  [2]:185)

Al-Qur’an, selain menjadi hidayah dalam dirinya sendiri, juga mengandung bayyinat min al-huda wal-furqan, yaitu penjelasan-penjelasan yang terang tentang petunjuk serta pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

Oleh karena itu, interaksi umat Islam dengan al-Qur’an tidak cukup berhenti pada aspek tilwah semata, tetapi perlu dilanjutkan dengan tadabbur dan pemahaman yang mendalam terhadap kandungannya. Hal ini sejalan dengan fungsi utama al-Qur’an sebagai sumber hidayah (petunjuk) bagi kehidupan manusia. Dengan demikian, membaca al-Qur’an tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas melafalkan huruf-hurufnya, melainkan juga sebagai upaya untuk menggali makna dan pesan yang terkandung di dalamnya. Melalui proses tersebut, umat Islam dapat memahami secara jelas berbagai petunjuk yang telah dijelaskan oleh Allah Swt., sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an benar-benar dapat membimbing dan mengarahkan kehidupan manusia.

Di antara berbagai bentuk ibadah yang memiliki keutamaan pada bulan Ramadan, terdapat satu tradisi keagamaan yang memiliki tujuan mendalam dalam membentuk peningkatan kualitas spiritual, intelektual, moral, dan sosial. Namun demikian, praktik ibadah ini sering kali terlupakan atau bahkan dipahami secara kurang tepat oleh sebagian umat. Tradisi ibadah yang dimaksud adalah tadarus al-Qur’an, yaitu aktivitas membaca, mempelajari, dan mendalami kandungan Al-Qur’an secara bersama-sama.

Tradisi ini telah menjadi kebiasaan umat Islam dalam menghidupkan malam-malam Ramadan melalui lantunan ayat-ayat al-Qur’an yang menggema di berbagai masjid dan mushala sebagai bentuk upaya dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. karena termotivasi oleh banyak riwayat dari Nabi saw. bahwa setiap huruf yang dibaca dari al-Qur’an akan diberikan ganjaran dengan satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh. Bahkan dijelaskan bahwa Alif Lam Mim bukan satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf. Ini menunjukkan betapa besar pahala membaca al-Qur’an, bahkan dari huruf-hurufnya sekalipun.

Untuk memahami makna tadarus al-Qur’an secara lebih mendalam, penting terlebih dahulu melihat bagaimana al-Qur’an sejak awal diturunkan dengan spirit intelektual melalui perintah “iqra'”. Karena wahyu pertama kali turun kepada Nabi Muhammad saw. sendiri berupa perintah untuk membaca (iqra’).

Sesungguhnya ketika Jibril datang dan mendekap Nabi Muhammad saw. saat berada di Gua Hira dan berkata: “Iqra’ (bacalah)”. Perintah tersebut bukan sekadar dimaknai sebagai aktivitas membaca ejaan Arab secara pasif dari huruf alif sampai ya’. Karena bangsa Arab waktu itu bukan bangsa yang bodoh sebagaimana kebanyakan orang memahami istilah yang disematkan kepada mereka sebagai bangsa Jahiliyah. Mereka ahli dalam bidang syair, sastra, dan bisnis perdagangan.

Istilah jahiliyah dalam kajian sejarah Islam tidak merujuk pada rendahnya tingkat intelektual (IQ) masyarakat Arab, melainkan pada kondisi sosial yang ditandai oleh ketimpangan moral, dominasi oligarki ekonomi, praktik perbudakan yang melembaga (dehumanisasi), serta struktur patriarki yang kuat.

Sehingga jika interaksi dengan al-Qur’an hanya berhenti pada pembacaan tekstual, maka pesan transformasional yang terkandung di dalamnya tidak akan sepenuhnya teraktualisasi. Padahal dalam tradisi intelektual Islam, al-Qur’an tidak hanya dibaca (tilwah), tetapi juga ditadabburi, dipahami, dan dijadikan dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Maka tadarus al-Qur’an seharusnya tidak berhenti sekadar pada aktivitas membaca huruf demi huruf dan ayat demi ayat dari al-Qur’an. Makna yang lebih mendalam dari tadarus al-Qur’an itu sendiri sesungguhnya adalah membaca, mempelajari, memahami, dan merenungi makna dan pesan-pesan yang tekandung di dalamnya yang sarat dengan petunjuk (al-hidyah) bagi kehidupan manusia.

Dengan demikian, tadarus al-Qur’an seharusnya tidak hanya menjadi aktivitas ritual yang bersifat individual, tetapi juga menjadi proses intelektual dan spiritual yang melahirkan kesadaran moral dalam kehidupan sosial. Dari sinilah al-Qur’an berfungsi sebagai sumber nilai yang membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan di era modern.

 

Related posts
KeislamanOpiniPendidikan

Memudarnya Ashabiyah dalam Organisasi Mahasiswa Daerah: Refleksi IPNW Kalsel

9 Mins read
Penulis: Aksara Sosial (Muhammad Najib Ali) Editor: Irna Damayanti Memudarnya ashabiyah dalam organisasi mahasiswa daerah kini menjadi isu krusial yang kerap luput…
AqidahKeislaman

Belajar dari Nabi Ibrahim: Ketulusan Usaha Lebih Utama daripada Hasil Akhir

1 Mins read
Ketulusan usaha adalah esensi sejati dari setiap perjuangan manusia, namun konsep ini sering kali terlupakan di era modern yang serba menuntut hasil…
AqidahKeislamanOpini

Kecerdasan Nabi Muhammad: Membaca Ulang Mukjizat Aqliyah untuk Peradaban Modern

3 Mins read
Kecerdasan Nabi Muhammad merupakan salah satu mukjizat terbesar Rasulullah SAW yang relevansinya terus hidup sepanjang zaman. Berbeda dengan mukjizat yang bersifat kauniyah,…
Berlangganan dengan kami NAHWA MEDIA

Dapatkan Informasi Ter Update Bila Anda Belangganan Dengan Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *