
LOMBOK TENGAH — Budidaya magot Black Soldier Fly (BSF) menjadi salah satu alternatif yang diperkenalkan kepada masyarakat Desa Aik Bukaq untuk mengelola sampah organik sekaligus menghasilkan sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Edukasi tersebut disampaikan oleh Kelompok 17 KKN Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram dalam kegiatan sosialisasi yang digelar pada Rabu, 2 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat Tani Pade Angen II, Desa Aik Bukaq, tersebut mengangkat tema “Budidaya Maggot BSF: Mengelola Sampah Organik Menjadi Sumber Daya untuk Mewujudkan Desa Aik Bukaq yang Mandiri dan Berdampak.”
Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan magot BSF sebagai salah satu solusi dalam mengurangi dan memanfaatkan sampah organik, khususnya sampah yang berasal dari rumah tangga.
Peserta mendapatkan edukasi mengenai manfaat magot BSF, tahapan budidaya, hingga pemanfaatan sampah organik sebagai sumber pakan. Selain membantu mengurangi volume sampah organik, magot BSF juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pakan alternatif yang berpotensi memberikan nilai tambah secara ekonomi.
Melalui kegiatan tersebut, Kelompok 17 KKN UNW Mataram mendorong masyarakat Desa Aik Bukaq untuk tidak hanya melihat sampah organik sebagai limbah, tetapi juga sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan.
Pengembangan budidaya magot secara mandiri diharapkan dapat menjadi salah satu langkah masyarakat dalam mengelola sampah secara berkelanjutan sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil budidaya untuk kebutuhan pakan.
Kegiatan sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya Kelompok 17 KKN UNW Mataram dalam memberikan edukasi dan mendorong pemanfaatan potensi lokal Desa Aik Bukaq. Ke depan, masyarakat diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan mengembangkan budidaya magot BSF secara mandiri serta berkelanjutan.
Dari sampah menjadi manfaat, dari magot menuju Desa Aik Bukaq yang mandiri dan berdampak.
![]()


