LocalPendidikan

Pelatihan Literasi Digital Penghulu KUA: UIN Mataram Dorong Transformasi Kompetensi Aparatur Keagamaan

4 Mins read

Pelatihan Literasi Digital Penghulu KUA: UIN Mataram Bangun Tradisi Baru Aparatur Keagamaan di Era Digital

Nahwa Media-Hotel Lombok Raya, Senin pagi, 17 November 2025, menjadi saksi hadirnya puluhan aparatur Kementerian Agama dari berbagai kecamatan di Lombok Tengah dan Lombok Utara. Mereka bukan sekadar berkumpul untuk mengikuti sebuah program, tetapi datang dengan harapan baru—meningkatkan kapasitas diri melalui Pelatihan Literasi Digital Penghulu KUA yang diselenggarakan oleh LP2M UIN Mataram. Suasana ruang Pejanggik yang rapi, tenang, dan dipenuhi percakapan hangat menjadi titik awal sebuah perjalanan penting menuju penguatan profesionalisme aparatur keagamaan.

Pelatihan ini tak hanya menghadirkan teori, tetapi juga memberikan ruang refleksi: bagaimana seorang penghulu, yang selama ini dikenal identik dengan pencatatan pernikahan, sesungguhnya memegang peran jauh lebih besar dalam kehidupan sosial-keagamaan masyarakat. Dan di era digital yang bergerak cepat, kemampuan mengakses literasi digital dan menulis karya ilmiah tidak lagi menjadi keterampilan tambahan—melainkan kebutuhan mendasar.

Sambutan yang Menyentuh: Penghulu sebagai Role Model Masyarakat

Di hadapan sekitar 60 peserta, Dr. Lalu Muhammad Nurul Wathoni, M.Pd.I., membuka sesi dengan sebuah pesan yang menohok tetapi penting:

“Seorang penghulu tidak hanya mencatat pernikahan. Mereka adalah role model, panutan masyarakat, dan pusat layanan keagamaan yang harus terus mengembangkan kompetensinya.”

Pesan itu disampaikan bukan sebagai kritik, melainkan sebagai motivasi. Menurutnya, Pelatihan Literasi Digital Penghulu KUA adalah jembatan menuju kualitas pelayanan publik yang lebih profesional, transparan, dan akuntabel. Di tengah transformasi digital, dunia menuntut aparatur negara untuk menyesuaikan diri, termasuk dalam kemampuan menulis karya ilmiah yang bisa mendukung pengembangan kebijakan berbasis data dan praktik lapangan.

baca juga: P2M UIN Mataram Latih Penghulu KUA se Loteng dan KLU Tingkatkan Kemampuan Literasi Digital dan Karya Ilmiah

Literasi Digital sebagai Nafas Baru Pelayanan Publik

Program pelatihan ini dirancang dengan pendekatan yang sangat praktis. Para peserta tidak hanya diajak memahami konsep literasi digital, tetapi juga diajarkan langsung cara memanfaatkan aplikasi pengelolaan referensi seperti Mendeley dan Zotero. Keduanya menjadi alat penting dalam peningkatan kemampuan menulis karya ilmiah yang kredibel, terstruktur, dan sesuai standar akademik.

Bagi banyak penghulu, aplikasi-aplikasi tersebut adalah hal baru. Namun, antusiasme peserta untuk belajar terlihat dari semangat bertanya, berdiskusi, dan mempraktikkan setiap materi yang disampaikan oleh pemateri seperti Prof. Dr. H. Sainun, M.Ag., Afifurrahman, M.Pd., Ph.D., dan Dr. Muhammad Fikri, MA.

Pelatihan ini memberikan kesempatan bagi penghulu untuk merasakan pengalaman baru—menulis dengan dukungan teknologi. Sebuah proses yang bukan hanya meningkatkan keterampilan mereka, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri untuk menghasilkan karya tulis ilmiah dari pengalaman lapangan yang setiap hari mereka hadapi.

Penghulu sebagai Penutur Pengalaman Lapangan

Salah satu tantangan besar yang dihadapi penghulu selama ini adalah bagaimana menuangkan pengalaman profesional mereka dalam bentuk tulisan ilmiah. Padahal, mereka berhadapan langsung dengan dinamika sosial-keagamaan yang sangat kaya—mulai dari persoalan pencatatan perkawinan, konsultasi keluarga, penyuluhan, hingga mediasi masyarakat.

Dengan adanya Pelatihan Literasi Digital Penghulu KUA, para peserta kini diajak untuk memahami bahwa pengalaman mereka adalah sumber pengetahuan yang sangat berharga. Tulisan-tulisan yang dihasilkan dari pengalaman tersebut bisa menjadi referensi penting bagi kebijakan, penelitian, dan pengembangan program pelayanan masyarakat.

Banyak peserta yang merasa bahwa pelatihan ini membuka wawasan baru. Mereka kini mulai menyadari bahwa karya tulis ilmiah bukan hanya milik akademisi di ruang kuliah, tetapi juga milik para praktisi lapangan yang setiap hari bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Kegiatan yang Didesain Humanis dan Inspiratif

Acara dibuka oleh pembawa acara, Pratiwi Andriani, mahasiswi S2 HKI, disusul pembacaan Kalam Ilahi oleh Alifya Lutfiana, mahasiswi IQT. Suasana khidmat itu memberikan kesan bahwa pelatihan ini bukan hanya kegiatan akademik, tetapi juga mengandung nilai spiritualitas yang kuat—sejalan dengan karakter keilmuan kampus Islam.

Dalam sesi diskusi, beberapa penghulu menyampaikan pandangan mereka terkait peran teknologi dalam meningkatkan pelayanan publik. Ada yang bercerita tentang sulitnya menyimpan dokumentasi manual, ada pula yang mengakui masih asing dengan aplikasi digital. Semua bersepakat bahwa pelatihan ini menjadi langkah penting dalam melakukan perubahan.

Menjawab Tantangan Transformasi Digital

Kita hidup pada masa ketika teknologi menjadi kunci dalam hampir semua aspek kehidupan. Penghulu sebagai aparatur negara dituntut untuk beradaptasi, terutama dalam kemampuan mengelola data, menulis laporan, menyusun makalah, hingga mempublikasikan karya ilmiah.

Pelatihan ini menjadi jawaban nyata atas kebutuhan tersebut. Para peserta didorong untuk:

  • Menggunakan literasi digital sebagai sarana penguatan kompetensi

  • Menulis karya ilmiah berbasis bukti dan praktik lapangan

  • Mengelola referensi akademik secara profesional

  • Membangun budaya dokumentasi ilmiah di lingkungan KUA

Transformasi digital bukan sekadar kebutuhan birokrasi, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral aparatur negara agar pelayanan publik yang diberikan benar-benar mencerminkan profesionalisme dan transparansi.

Refleksi dan Dampak Pelatihan

Setelah mengikuti Pelatihan Literasi Digital Penghulu KUA, banyak peserta mengaku mendapatkan pengalaman berharga. Beberapa bahkan mulai merencanakan penulisan karya ilmiah pertama mereka. Ada pula yang menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan semangat baru untuk memperkuat kapasitas diri dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Di akhir acara, terlihat jelas bahwa pelatihan ini bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi juga gerakan perubahan. Penghulu yang sebelumnya mungkin merasa literasi digital bukan bagian dari tugas mereka, kini mulai memahami bahwa kemampuan tersebut adalah bagian dari profesionalisme yang harus dimiliki.

Dengan pemahaman baru itu, mereka pulang membawa bukan hanya catatan materi, tetapi juga kesadaran bahwa dunia telah berubah—dan mereka harus menjadi bagian dari perubahan itu.

Penutup: Sebuah Awal dari Banyak Perubahan

Pelatihan Literasi Digital Penghulu KUA yang digelar UIN Mataram ini menjadi langkah strategis dalam membangun generasi penghulu yang cakap teknologi, kritis, dan produktif secara akademik. Mereka bukan hanya petugas pencatat nikah, tetapi pendidik, pembimbing, dan representasi negara dalam pelayanan sosial-keagamaan.

Dengan meningkatnya kemampuan literasi digital, para penghulu kini memiliki peluang lebih besar untuk berkontribusi dalam dunia akademik, kebijakan publik, dan inovasi pelayanan masyarakat. Pelatihan ini menjadi titik awal—dan masih banyak langkah berikutnya yang akan membawa manfaat lebih besar bagi masyarakat.

baca juga: Muscab Pembentukan Pengurus Kecamatan NW Lombok Tengah Tegaskan Tekad Kuat Kader

Related posts
PendidikanInternasional

Mahasiswi Asal Lombok Timur Tembus Forum Ilmiah Dunia di University of Oxford

1 Mins read
Kabar membanggakan datang dari Lombok Timur. Seorang mahasiswi asal Anjani, Suralaga, Fatimatuzzahro’ Sholehuddin, berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional dengan mempresentasikan…
PesantrenPendidikan

Kunjungan Wakil Menteri di YANMU NW Praya Dorong Sinergi Pendidikan Pesantren

1 Mins read
Lombok Tengah – Kunjungan Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A (Wamen Dikdasmen RI) ke Pondok Pesantren Munirul Arifin NW Praya berlangsung penuh…
Local

Pengelolaan Sampah Kian Memburuk, Pemuda Suralaga Sampaikan Masukan ke Pemerintah Desa

1 Mins read
Pengelolaan sampah di Desa Suralaga, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur, dinilai belum berjalan maksimal. Sejumlah persoalan seperti kerusakan fasilitas hingga keterlambatan gaji petugas…
Berlangganan dengan kami NAHWA MEDIA

Dapatkan Informasi Ter Update Bila Anda Belangganan Dengan Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *