Nahwa Media-Produksi Roti SMKN 1 Sakra kini menjadi salah satu cerita inspiratif tentang bagaimana karya siswa dapat membuka peluang baru dan membawa dampak nyata bagi sekolah. Seiring masuknya produk roti buatan siswi Jurusan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) ke dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), geliat aktivitas di ruang praktik semakin terasa hidup.
Setiap pagi, aroma roti hangat memenuhi sudut-sudut sekolah. Para siswi dengan penuh semangat menimbang adonan, menyiapkan loyang, hingga memastikan setiap roti memiliki kualitas terbaik. Di balik proses itu, ada kebanggaan tersendiri bagi mereka karena kini hasil kerja kerasnya dipercaya menjadi bagian dari program besar pemerintah daerah.
Rohatin Arpianingsih, Ketua Kompetensi Keahlian APHP, menyampaikan bahwa permintaan dari dapur MBG terus meningkat. Dua dapur yang telah bekerja sama saja membutuhkan hingga 6 ribu pieces roti per minggu. Namun, tingginya permintaan ini masih menjadi tantangan karena peralatan produksi yang dimiliki sekolah sangat terbatas.
baca juga: Roti Buatan Siswi APHP SMKN 1 Sakra Tembus Dapur MBG
Oven yang hanya mampu menampung delapan loyang membuat produksi harus dilakukan secara bertahap. Setiap pekan, sekolah hanya mampu memenuhi dua pesanan SPPG. Meski begitu, semangat para siswi tidak kendur. Mereka tetap konsisten memproduksi berbagai varian roti, mulai dari roti abon, keju, roti O, hingga varian sederhana yang disukai dapur MBG.
Selain memasok MBG, roti buatan siswi ini juga dijual di beberapa ritel sekitar sekolah dan memiliki reseller tetap. Senin menjadi hari khusus produksi untuk reseller, sementara pesanan MBG dicicil mulai Selasa hingga Kamis.
Dibandingkan sebelum adanya program MBG yang hanya memproduksi 5 kilogram adonan per hari, kini produksi meningkat hingga 30 kilogram. Lonjakan ini menjadi bukti betapa besar pengaruh program tersebut terhadap perkembangan kompetensi dan kemandirian siswa.
Kepala SMKN 1 Sakra, Ahmad Suhamka, berharap pemerintah dapat membantu pengadaan peralatan tambahan agar sekolah mampu menjangkau lebih banyak dapur MBG. Ia optimis bahwa dengan dukungan sarana produksi yang lebih memadai, siswa dapat menghasilkan lebih banyak karya sekaligus memperkuat posisi sekolah sebagai produsen roti unggulan di daerah.
“Setiap pameran, produk anak-anak selalu habis,” ujarnya penuh bangga. “Kualitasnya tidak kalah dengan produk yang ada di luar.”
Lewat perjalanan ini, SMKN 1 Sakra tidak hanya membuktikan kemampuan siswa dalam dunia usaha, tetapi juga menjadi contoh bahwa pendidikan vokasi mampu menciptakan produk kompetitif yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
![]()


