KebangsaanKeislamanOpiniPolitikSosial

Surat Cinta untuk Kader!

2 Mins read

Surat Cinta untuk Kader!

Rekan-rekan seperjuangan yang saya banggakan…
Dalam perjalanan kita memahami Tauhid, seringkali kita hanya fokus pada aspek ritual. Padahal, cara terbaik memahami Tauhid adalah dengan mengenali apa itu Syirik. Al-Qur’an mengajarkan bahwa syirik bukan sekadar menyembah berhala fisik. Di zaman sekarang, kemusyrikan telah bertransformasi menjadi bentuk yang jauh lebih halus dan berbahaya, terutama dalam kehidupan sosial kita.

Jika dulu orang menyembah matahari atau batu, hari ini musuh kita adalah “musuh dalam selimut.” Itulah nafsu dan ego kita sendiri. Syirik modern tidak lagi berbentuk patung, melainkan wujud cinta yang berlebihan kepada: Harta benda kekayaan, Jabatan yang enggan dilepaskan, dan ketaatan buta kepada tokoh yang dituhankan. Fanatisme golongan dan partai yang membuat kita “tuli” terhadap kebenaran dari pihak lain. Nafsu inilah yang mendorong manusia menyembah manusia lainnya, menjadikan lembaga atau organisasi sebagai “Tuhan-Tuhan Kecil” tempat mereka menggantungkan nasib. Akibatnya, banyak orang rela mati atau bertikai bukan demi agama, melainkan demi membela ego kelompoknya.

Ada sebuah hadist yang memilik makna mendalam: “Agama adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tidak berakal.” Orang yang bertauhid seharusnya memiliki akal yang sehat. Ia tidak akan terjebak dalam pembelaan “hitam-putih” yang konyol. Seorang kader yang sehat jiwanya tidak akan berkata, “Kalau bukan karena saya, persoalan ini tidak terselesaikan,” atau “Kalau bukan golongan (organisasi, politik, pemimpin) saya, tidak akan ada keadilan.” Pernyataan seperti itu adalah bentuk kesombongan yang merampas kebebasan kita untuk hanya berserah diri kepada Allah SWT. Kita harus berpihak pada nilai kebenaran, bukan pada lembaga atau nama orangnya saja.

Tauhid melahirkan manusia yang merdeka. Seorang kader harus berani menyatakan pendapat dan menentukan pilihan tanpa rasa takut atau tertekan. Namun, kebebasan ini bukanlah kebebasan yang liar atau anarkis. Kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain. Inilah yang disebut “bebas dalam ketidakbebasan.” Kita bebas mengekspresikan diri, namun tetap hormat dan peduli pada sesama. Inisiatif kita haruslah positif, dibangun di atas akal budi yang jernih, bukan dorongan nafsu yang serakah.

Sebagaimana dalam pemikiran Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Perjuangan ini bermula dari jiwa seorang Mujahidin, sang pejuang sejati mengintegrasikan Iman sebagai fondasi, Ilmu sebagai kompas, dan Amal sebagai bukti nyata, yang semuanya digerakkan dengan hati Ikhlas dan Istiqomah. Ketangguhan ini disempurnakan oleh karakter Mukhlisin, yakni ketulusan tanpa batas yang membuat seorang kader bergerak tanpa menoleh pada penghargaan manusia. Baginya, pujian tidak membuatnya terbang dan cacian tidak membuatnya tumbang, karena satu-satunya tujuan adalah meraih barokah Allah SWT. Kader juga harus menjadi sosok Mahfuzin yang menjaga kehormatan diri, agama, dan organisasi melalui perilaku moral dan etika (independensi secara Etis dan Independensi secara Organisasisatoris). Namun, ia juga harus menjadi golongan Khawwas yang memiliki kecerdasan strategis. Kader Khawwas tidak menjadi “kerbau yang dicolok hidungnya”, melainkan memiliki inisiatif tinggi, memahami arah perjuangan. Kemudian bermuara pada jiwa Arifin, sosok yang memiliki kebijaksanaan kolektif dalam pola pikir, pola rasa, dan pola laku. Ia mengharmonisasikan Arifubillah melalui kedalaman hablumminallah (mengenal Tuhannya) dengan Arifubilhikmah melalui hablumminal’alamin (bijaksana mengambil mutiara hikmah dari semesta), sehingga kehadirannya menjadi rahmat bagi sesama. Puncaknya, kader harus mencapai derajat Muqorrabin, yaitu kedekatan spiritual dengan Tuhan. Inilah kunci agar hati tidak mengeras, yang memungkinkan seorang kader tetap rendah hati di puncak kekuasaan dan tetap bertahan di tengah Ketidakpastian.

Rekan-rekan seperjuangan, mari kita evaluasi diri. Apakah gerakan kita didasari oleh ketulusan Tauhid, atau jangan-jangan kita sedang diperbudak oleh ego dan organisasi kita sendiri? Mari kita bebaskan diri dari belenggu “isme-isme” yang merusak akal sehat, dan kembali menyembah Tuhan Yang Maha Esa dengan aksi nyata bagi kemanusiaan.

Salam Hangat,
Satu Perjuangan,
Untuk Kebenaran…!

Penulis : MDP | Manusia Biasa


Referensi :
1. Buku Nahdltul Wathan : Refleksi Keislaman Kebangsaan dan Keummatan (Prof. Dr. H. Fahrurrozi Dahlan, MA.,)
2. Bias Pergulatan Politik : Gejala Kemusyrikan Nafsu dan Ego -Djohan Effendi (Buku Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern-Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A)

Related posts
LocalSosial

Mahasiswa Expo UMMAT 2026 Meriah, Hadirkan Job Fair dan Beragam Karya Kreatif Mahasiswa

1 Mins read
Mataram- Mahasiswa Expo UMMAT 2026 berlangsung meriah di Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) yang dirangkaikan dengan Job Fair ke-2 dan Launching Milad ke-46…
NasionalPolitik

Pengangkatan SPPI Menjadi PPPK Dikaji PKSN NTB, Diduga Langgar Hukum Administrasi

3 Mins read
Pengangkatan SPPI Menjadi PPPK Dikaji PKSN NTB, Diduga Langgar Hukum Administrasi Mataram,- Direktur Pelaksana Pemantau Kebijakan Strategis Nasional (PKSN) Regional Nusa Tenggara…
Keislaman

Makna Kurban di Era Digital: Menjaga Nilai Pengorbanan Generasi Muda di Tengah Kemajuan Teknologi

3 Mins read
Lombok, 6 Juni 2026 – Makna Kurban di Era Digital menjadi refleksi penting bagi generasi muda dalam memahami nilai pengorbanan, keikhlasan, dan…
Berlangganan dengan kami NAHWA MEDIA

Dapatkan Informasi Ter Update Bila Anda Belangganan Dengan Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *