
Nahwa Media-Antisipasi Cuaca Ekstrem NTB terus diperkuat oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat guna menghadapi potensi gangguan iklim di kawasan sentra produksi pangan, khususnya di wilayah lereng Gunung Rinjani dan Gunung Tambora.
Langkah ini diambil berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai bentuk kesiapsiagaan dini demi menjaga keselamatan masyarakat serta keberlanjutan sektor pertanian daerah.
Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik, menjelaskan bahwa pemerintah menyiapkan lima strategi utama dalam upaya antisipasi cuaca ekstrem NTB, yakni penguatan sistem peringatan dini, pemetaan wilayah rawan bencana, perlindungan sektor pertanian, kesiapan evakuasi dan logistik, serta peningkatan edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
Dalam implementasinya, BPBD dan Dinas PUPR NTB melakukan pemetaan terhadap daerah rawan banjir, longsor, serta jalur vital yang berpotensi terdampak bencana hidrometeorologi, agar penanganan darurat dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.
Sektor pertanian menjadi perhatian utama dalam program antisipasi cuaca ekstrem NTB. Pemerintah mendorong petani menyesuaikan jadwal tanam, memperkuat sistem drainase lahan, serta menerapkan langkah mitigasi erosi untuk menjaga stabilitas produksi pangan daerah.
Selain itu, kesiapan logistik dan skema evakuasi telah disiapkan apabila terjadi bencana. Unsur pemerintah daerah, termasuk Dinas Sosial dan BPBD, disiagakan guna memastikan kebutuhan masyarakat terdampak terpenuhi.
Pemerintah Provinsi NTB juga mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana agar tetap waspada serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan BMKG sebagai bagian dari upaya antisipasi cuaca ekstrem.
baca juga: Al-Ghazali dan Uang
Foto hanya ilustrasi AI Sumber: ntbprov.go.id
![]()


