KeislamanOpini

Al-Ghazali dan Uang: Peringatan Abadi tentang Ekonomi Tanpa Moral

3 Mins read
Al-ghazali

Oleh : At-Tirmidzi Abtaar

Nahwa Media-Al-Ghazali bukan seorang ekonom. Ia bukan pula bankir. Namun analisisnya tentang uang jauh lebih tajam dibanding banyak teori ekonomi modern. Ia lahir di Persia pada abad ke-11, dengan nama lengkap Abu Hamid Al-Ghazali seorang cendekiawan Muslim yang melihat pola berbahaya dalam perjalanan sebuah peradaban: ketika kekayaan tumbuh lebih cepat daripada kebijaksanaan, kehancuran hanya soal waktu.

Sejarah pemikiran ekonomi sering kali dimulai dari Barat. Nama-nama seperti Adam Smith, Karl Marx, atau sesekali Aristoteles hampir selalu mendominasi buku pelajaran. Itu pun jika kurikulum cukup berbaik hati menyebut sejarah sebelum kapitalisme. Namun ada satu kebenaran besar yang jarang disentuh oleh narasi sejarawan Barat sebuah kebenaran yang lahir jauh sebelum bank sentral, sebelum kapitalisme modern, bahkan sebelum istilah “ekonomi” dipahami seperti sekarang.

Hampir seribu tahun lalu, seorang ulama dan filsuf Muslim telah mengeluarkan peringatan yang hingga hari ini terus bergema dalam setiap krisis keuangan dunia yakni ketika uang kehilangan kompas moralnya, masyarakat akan membusuk dari dalam. Dan jika kita menengok dunia hari ini, barangkali Al-Ghazali justru memahami zaman kita lebih baik daripada yang kita sadari.

  • Dunia Islam yang Makmur, Namun Gelisah

Untuk memahami pemikiran ini, bayangkan dunia sekitar tahun 1100 Masehi. Eropa masih terpecah, miskin, dan tertatih keluar dari bayang-bayang Abad Pertengahan. Sementara itu, dunia Islam membentang luas dari Andalusia hingga Persia. Kota-kotanya hidup dan berdenyut. Baghdad, Damaskus, dan Kairo menjadi pusat perdagangan, pusat ilmu pengetahuan, sekaligus pusat keuangan dunia.

Pasar dipenuhi kafilah pembawa sutra, rempah-rempah, tekstil, dan perak. Para cendekiawan memperdebatkan filsafat, hukum, astronomi, dan kedokteran. Kekaisaran kaya. Pedagang berkembang pesat. Namun di balik kemakmuran itu, Al-Ghazali merasakan sesuatu yang ganjil: kekayaan tumbuh lebih cepat daripada kebijaksanaan.

Di tengah dunia yang sedang mabuk oleh perdagangan dan materi inilah muncul sosok Abu Hamid Al-Ghazali. Ia bukan sekadar ulama, melainkan filsuf, ahli hukum, teolog, sekaligus pengamat sosial yang amat tajam. Bayangkan seseorang yang mampu berbicara tentang tujuan jiwa manusia dan fungsi sistem mata uang tanpa merasa perlu memisahkannya.

Pada usia relatif muda, ia telah menduduki posisi akademik paling prestisius di dunia Islam. Namun yang membuatnya berbeda bukanlah jabatannya, melainkan keberaniannya mempertanyakan arah zaman. Ia melihat masyarakat yang semakin kaya, tetapi semakin kehilangan makna. Ekonomi tampak berkembang, namun rapuh di dalam.

Dari sanalah ia mengajukan pertanyaan berbahaya: apa yang terjadi ketika sebuah peradaban menjadi kaya lebih cepat daripada menjadi bijak?

Uang Bukan Tuhan, Ia Hanya Alat

Berbeda dengan banyak pemikir sezamannya, Al-Ghazali tidak berhenti pada hukum atau ritual. Ia menembus jantung persoalan yakni uang itu sendiri.

Baginya, uang tidak diciptakan untuk disembah, ditimbun, atau dijadikan simbol status. Uang hanyalah alat tukar tidak lebih. Ia mengibaratkan uang seperti cermin. Cermin tidak bernilai karena dirinya, melainkan karena apa yang ia pantulkan. Nilai uang bukan terletak pada emas atau peraknya, melainkan pada kemampuannya memudahkan kerja sama manusia: berdagang, bekerja, dan membangun kehidupan.

Sebuah gagasan yang hari ini sering diklaim sebagai pemikiran modern, padahal telah ditulis dengan jelas pada abad ke-11 oleh Al-Ghazali. Dari sini lahirlah kritiknya yang tajam yakni uang yang ditimbun adalah uang mati.

Kekayaan yang dikunci di peti, disembunyikan di kamar, atau dikubur di tanah tidak menghidupi siapa pun. Ia tidak memberi makan pekerja, tidak menggerakkan perdagangan, tidak mengalirkan kehidupan ekonomi. Al-Ghazali menyebutnya seperti membekukan aliran darah masyarakat.

Masalahnya bukan semata keserakahan individu. Masalahnya bersifat sistemik. Penimbunan menciptakan kelangkaan buatan, harga melambung tidak wajar, pasar terdistorsi, dan rakyat kecil menjadi korban pertama.

  • Spekulasi, Manipulasi, dan Pencurian yang Disamarkan

Al-Ghazali juga keras terhadap spekulasi dan manipulasi pasar. Pedagang yang menahan barang demi menaikkan harga, menciptakan kelangkaan palsu, atau mengambil untung dari krisis, dalam pandangannya bukan sedang cerdas melainkan merusak sendi kehidupan ekonomi.

Keuntungan tanpa kontribusi adalah bentuk korupsi. Dan korupsi, bagi Al-Ghazali, selalu menular. Ketika kepercayaan runtuh, pasar ikut runtuh. Dan ketika pasar runtuh, ekonomi hanya menunggu waktu.

Ia bahkan termasuk pemikir awal yang berani mengkritik penguasa. Al-Ghazali melihat bagaimana negara mencairkan koin emas atau perak demi menutup defisit—sebuah bentuk pajak tersembunyi melalui inflasi. Baginya, ini bukan kebijakan, melainkan pencurian.

Manipulasi mata uang menghancurkan kepercayaan, menghukum kaum miskin, dan merusak fondasi ekonomi. Negara seharusnya menjaga keadilan pasar, bukan mempermainkannya demi keuntungan jangka pendek, baik untuk pribadi maupun kroninya.

“Tiran” (Penguasa yang tidak adil bisa menghancurkan kesejahteraan rakyat lebih cepat daripada musuh dari luar), tulisnya, “menghancurkan kemakmuran lebih cepat daripada musuh dari luar.”

  • Cermin Abadi Dunia Modern

Dari seluruh pengamatannya, Al-Ghazali sampai pada satu kesimpulan sederhana namun menghantam: sebuah masyarakat mungkin bertahan dalam kemiskinan, tetapi tidak akan bertahan dalam korupsi.

Keruntuhan ekonomi jarang terjadi karena uang habis. Ia terjadi karena kepercayaan runtuh atau perekat tak kasatmata yang menyatukan setiap transaksi, kontrak, mata uang, dan lembaga. Ketika kepercayaan lenyap, bahkan negara terkaya pun menjadi rapuh.

Hari ini dunia kita memang terlihat berbeda. Teknologi lebih canggih, pasar lebih cepat, skala ekonomi bersifat global. Namun perilaku manusianya nyaris tak berubah. Penimbunan, spekulasi, manipulasi, kesenjangan, inflasi tersembunyi, gelembung ekonomi yang meletup berulang kali semuanya adalah gema dari persoalan yang telah didiagnosis seribu tahun lalu oleh Al-Ghazali.

Ia tidak sedang berkhotbah. Ia sedang menjelaskan realitas: uang bukan mesin mati, melainkan ekosistem moral. Dan ketika kerangka moral itu runtuh, sistem keuangan akan runtuh bersamanya.

  • Pelajaran yang Terlalu Mahal untuk Diabaikan

Pesan akhirnya sederhana, namun brutal: jika uang terlepas dari moralitas, sistem tidak akan bertahan.

Memahami ini bukan sekadar pelajaran sejarah atau literasi keuangan. Ini adalah bentuk perlindungan diri. Sebab sejarah memang tidak pernah berulang secara persis sama, tetapi ketika kita menolak memahaminya, ia akan menghancurkan kita dengan cara yang baru. Dan mungkin, di sanalah tugas kita hari ini: kembali belajar, bukan hanya dari masa depan, tetapi dari kebijaksanaan yang telah lama kita abaikan.

 

Related posts
OpiniPendidikanSosial

Dari Tontonan ke Tuntunan: Saat Agama Dipelajari dari Algoritma

4 Mins read
Nahwa Media– Agama dipelajari dari algoritma kini menjadi fenomena yang semakin nyata di era digital. Pagi ini, sama seperti jutaan orang lainnya,…
DakwahKeislaman

Cermin Malu Ummat Islam: Ruwaibidhah dalam Islam dan Krisis Kepemimpinan Global

3 Mins read
Cermin Malu Ummat Islam : Saat Ruwaibidhah Berkuasa dan Pemilik Iman Menjadi Buih I. Ruwaibidhah: Ketika Si Bodoh Menjadi Penentu Nasib Dunia…
Opini

Cermin Malu Ummat Islam : Saat Ruwaibidhah Berkuasa dan Pemilik Iman Menjadi Buih

3 Mins read
Oleh : MDP | Manusia Biasa I. Ruwaibidhah: Ketika Si Bodoh Menjadi Penentu Nasib Dunia Sejarah mencatat sebuah ironi besar di jantung…
Berlangganan dengan kami NAHWA MEDIA

Dapatkan Informasi Ter Update Bila Anda Belangganan Dengan Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *