Opini

Cermin Malu Ummat Islam : Saat Ruwaibidhah Berkuasa dan Pemilik Iman Menjadi Buih

3 Mins read

Oleh : MDP | Manusia Biasa

I. Ruwaibidhah: Ketika Si Bodoh Menjadi Penentu Nasib Dunia

Sejarah mencatat sebuah ironi besar di jantung kekuasaan modern. Mary Anne Trump, seorang ibu yang membesarkan anaknya dengan pengamatan tajam, pernah berkata jujur: “Dia tidak punya akal sehat, dia akan jadi bencana jika masuk politik.” Kesaksian seorang ibu jarang meleset. Dan benar saja, Washington Post mencatat ribuan klaim selama masa jabatannya—sebuah pola yang sistematis, bukan sekadar kekhilafan.

Fenomena ini bukanlah hal baru bagi mereka yang menelaah warisan kenabian. 1.400 tahun yang lalu, Rasulullah ﷺ sudah memotret zaman ini dengan istilah yang sangat presisi: Ruwaibidhah. Beliau ﷺ bersabda: “Akan datang tahun-tahun penuh kedustaan ​​​​yang menimpa manusia. Pendusta percaya, orang jujur ​​​​didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang amanah dikhianati, dan Ruwaibidhah pun ikut bicara.” Para sahabat bertanya, “Apa itu Ruwaibidhah ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang bodoh yang mengurusi urusan umum.” (HR. Ibnu Majah).

Hari ini, dunia menjuluki “Presiden Terburuk Yang Pernah Ada”. Sejarah membuktikan sabda Nabi ﷺ lainnya: “Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka, dan mereka pun melaknat kalian.” (HR.Muslim). Ketika pemimpin dan rakyat saling melaknat, itulah tanda nyata bahwa kehancuran dalam sebuah negeri akan segera datang.

II. Standar Kepemimpinan yang Terlupakan

Islam tidak pernah menyerahkan urusan umat kepada popularitas kosong. Rasulullah ﷺ sangat ketat dalam memilih pemimpin. Ingatlah saat Abu Dzar al-Ghifari, sahabat yang paling jujur ​​​​dan zuhud, meminta jabatan. Nabi ﷺ menolaknya dengan kasih sayang: “Wahai Abu Dzar, engkau orang yang lemah. Dan jabatan itu adalah amanah. Pada hari menyerah ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi yang mengambilnya dengan benar dan menunaikannya dengan baik.” (HR.Muslim).

Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kesalehan pribadi tidak otomatis membuat seseorang cakap memimpin. Beliau lebih memilih Amr bin Ash atau Khalid bin Walid yang punya kecakapan teknis. Standar ini pun termaktub dalam Al-Qur’an melalui lisan Nabi Yusuf AS: “Jadikanlah aku bendahara bumi (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (Hafidz), lagi berpengetahuan (Alim).” (QS.Yusuf:55).

Dua pilar ini—Amanah dan Ilmu—adalah syarat mutlak. Jika salah satunya hilang, apalagi keduanya, maka kehancuran hanyalah masalah waktu. “Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah berhenti.” (HR.Bukhari).

AKU AKU AKU. Tragedi 1,8 Miliar “Buih” dan Penyakit Al-Wahn

Namun, ada cermin besar yang diletakkan di depan wajah kita. Pada 28 Maret 2026, jutaan orang di Amerika turun ke jalan. Mereka tidak menyebut nama Allah, mereka tak punya ayat amar makruf nahi mungkar, mereka mungkin tak punya janji surga, tapi mereka bergerak karena fitrah kemanusiaan melawan kedzaliman dan untuk Kemanusiaan. Sementara kita, 1,8 miliar Muslim, hanya diam. Malu kita…!

Rasulullah ﷺ telah mendiagnosa keadaan kita 14 abad yang lalu. Beliau mengibaratkan umat Islam seperti hidangan yang diperebutkan kaum pemangsa. Sahabat bertanya apakah karena jumlah kita sedikit? Beliau menjawab: “Tidak. Kalian banyak. Tapi kalian buih seperti buih di lautan. Dan Allah mencabut rasa takut dari dada musuh kalian, serta menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahn.” Sahabat bertanya, “Apa itu Al-Wahn?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud).

Penyakit inilah yang membuat kita menciptakan dalih “saleh” untuk apatis. Kita menyebut diamnya kita sebagai “tawadhu”, kita menyebut bungkamnya kita sebagai “sunnah”, dan kita berdalih “perbaiki diri saja dulu tanpa mengurusi politik”. Padahal, Islam bukan candu untuk mendiamkan rakyat. Islam adalah agama revolusioner yang turun untuk meruntuhkan status quo oligarki dan penindasan.

Refleksi Akhir: Menjadi Ombak, Bukan Lagi Buih

Setelah melihat kenyataan ini, ada tiga poin besar yang harus menjadi renungan mendalam bagi kita semua:

1. Kebenaran Islam Melampaui Zaman: Fenomena “Ruwaibidhah” dan predikat “Pemimpin Terburuk” di era modern adalah bukti otentik bahwa nubuat Rasulullah ﷺ melampaui batas waktu dan geografi. Peta krisis dunia saat ini sudah digambarkan sejak lama; masalahnya bukan pada petanya, tapi pada kita yang enggan membacanya.

2. Agama Adalah Pergerakan, Bukan Pelarian: Jangan jadikan “memperbaiki diri” atau “menunggu Imam Mahdi” sebagai alasan untuk membiarkan kedzaliman merajalela. Nabi Yusuf AS bergerak menawarkan solusi, Musa AS mendatangi Fir’aun, dan Rasulullah ﷺ berjalan terang-terangan menantang sistem Quraisy yang menindas. Artinya sebagai ummat yang beragama harus berani bergerak menjadi yang terdepan untuk memberikan solusi dalam setiap keadaan atau permasalahan.

3. Hukum tentang Tuhan Makar: Saat dunia merasa hebat dengan teknologi dan strategi politiknya untuk mencoret satu per satu negara Islam dari peta, kita harus ingat: “Mereka bermakar, dan Allah pun bermakar. Dan Allah adalah sebaik-baik pembuat makar.” (QS. Al-Anfal : 30). Namun, makar Allah seringkali bekerja melalui tangan-tangan yang tidak terduga—bahkan melalui mereka yang tidak mengenal-Nya, namun tetap menjaga fitrah kemanusiaan.

 Pertanyaan terakhir untuk kita semua: Jika Rasulullah ﷺ hidup hari ini sebagai orang biasa, apakah dia akan memilih duduk diam di rumah sambil menatap layar ponsel, atau dia akan berada di garis terdepan yang menyatakan bahwa nyawa manusia bukan sekedar kepentingan belaka? Kita harus memilih: Terus menjadi bangunan yang ringan dan terlupakan, atau kembali menjadi ombak yang berani meruntuhkan dinding-dinding kedzaliman. Berhentilah menyebut ketidakadilan global sebagai “urusan politik”, mulai menyebutnya dengan nama aslinya: Kedzaliman yang diharamkan Allah. Atas semua nama. Tanpa Terkecuali.

 

Referensi: Tulisan akun Instagram @king_shifrun

Related posts
OpiniPendidikanSosial

Dari Tontonan ke Tuntunan: Saat Agama Dipelajari dari Algoritma

4 Mins read
Nahwa Media– Agama dipelajari dari algoritma kini menjadi fenomena yang semakin nyata di era digital. Pagi ini, sama seperti jutaan orang lainnya,…
OpiniAqidahSantri

Kekerasan di Pesantren: Menguak Relasi Kuasa dan Luka di Balik Dinding Pesantren

3 Mins read
DI BALIK DINDING PESANTREN: MENGUAK RELASI KUASA DAN LUKA YANG TERSEMBUNYI Nahwa Media-Kekerasan di pesantren menjadi isu yang semakin mendapat perhatian publik…
Opini

Muhasabah Pemuda dan Cermin Perubahan: Refleksi untuk Kita Semua

3 Mins read
Nahwa Media-Muhasabah pemuda menjadi salah satu hal paling penting untuk kita renungkan hari ini. Problem paling mendesak bagi suatu wilayah atau daerah…
Berlangganan dengan kami NAHWA MEDIA

Dapatkan Informasi Ter Update Bila Anda Belangganan Dengan Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *