
Penulis: Julaika Purnami
Nahwa Media-Muhasabah pemuda menjadi salah satu hal paling penting untuk kita renungkan hari ini. Problem paling mendesak bagi suatu wilayah atau daerah sering kali dianggap terletak pada pendidikan, kebijakan pemerintah, atau berbagai isu yang sedang viral. Banyak orang berpikir bahwa jika sistem pendidikan diperbaiki, jika kebijakan pemerintah lebih baik, atau jika berbagai program pembangunan dijalankan secara maksimal, maka persoalan daerah akan selesai dengan sendirinya.
Namun jika ditelaah lebih dalam, akar persoalan yang paling mendasar justru berada pada kita sebagai pemuda yang hidup di daerah tersebut. Inilah mengapa muhasabah pemuda menjadi langkah awal yang tidak bisa diabaikan.
Mengapa demikian?
Hari ini tidak sulit menemukan ruang-ruang diskusi yang dipenuhi oleh pemuda. Kita gemar membahas berbagai persoalan sosial, menyoroti polemik yang terjadi, serta mengangkat isu-isu viral yang dilakukan pemerintah di berbagai tempat. Berbagai forum diskusi dibuka di banyak tempat, membedah letak kesalahan, sekaligus mencari gagasan tentang kontribusi apa yang dapat diberikan bagi masyarakat.
Di satu sisi, fenomena ini tentu merupakan sesuatu yang positif. Ia menunjukkan bahwa pemuda memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Ada keinginan untuk memahami berbagai persoalan, serta harapan untuk menjadi bagian dari solusi. Diskusi, seminar, dan berbagai forum intelektual juga menjadi ruang penting bagi lahirnya gagasan-gagasan baru.
Namun sering kali kita lupa bahwa solusi yang paling dekat justru berada pada diri kita sendiri. Dalam konteks ini, muhasabah pemuda bukan hanya sekadar refleksi, tetapi juga kesadaran untuk berubah.
Tidak jarang kita menghadiri berbagai forum diskusi, seminar, atau pertemuan yang membicarakan perubahan dan perbaikan. Kita berdiskusi panjang tentang berbagai persoalan besar, mulai dari pembangunan daerah, kesejahteraan masyarakat, hingga kualitas pendidikan. Akan tetapi, dalam praktiknya kita belum sepenuhnya menjadikannya sebagai prioritas dalam kehidupan sehari-hari.
Hal-hal sederhana yang seharusnya menjadi fondasi kedisiplinan masih kerap diabaikan.
Misalnya soal waktu.
Masih sering kita datang tidak tepat waktu dalam berbagai kegiatan. Kebiasaan “ngaret” seakan telah menjadi budaya yang dianggap wajar dalam setiap perkumpulan. Acara yang seharusnya dimulai pada pukul tertentu sering kali harus tertunda karena menunggu peserta yang belum datang. Tanpa disadari, hal kecil seperti ini justru menunjukkan bagaimana kita memandang tanggung jawab.
Padahal, sebuah kegiatan tidak mungkin berjalan tanpa kehadiran peserta yang disiplin. Panitia dan penyelenggara mungkin telah mempersiapkan acara dengan maksimal, mengatur waktu, tempat, serta berbagai kebutuhan teknis lainnya. Tetapi ketika peserta tidak menghargai waktu, maka semangat dan gerak perubahan pun terasa melambat.
Dari persoalan sederhana inilah sebenarnya kita bisa membaca gambaran yang lebih besar tentang karakter pemuda hari ini.
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah mengatakan, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Kalimat tersebut menggambarkan betapa besarnya potensi yang dimiliki oleh pemuda. Energi, kreativitas, serta keberanian pemuda diyakini mampu menjadi kekuatan besar dalam menggerakkan perubahan.
Namun jika kita refleksikan hari ini, jumlah pemuda bukan hanya sepuluh, bahkan jauh lebih banyak dari itu. Di setiap daerah terdapat ribuan pemuda dengan berbagai latar belakang pendidikan, organisasi, serta pengalaman yang beragam. Meski demikian, kita masih sering bertanya: di mana letak aksi nyata dari potensi besar tersebut?
Di titik inilah penting bagi kita untuk melakukan muhasabah pemuda atau refleksi diri. Menjadi pemuda tidak cukup hanya dengan aktif berdiskusi, menyuarakan kritik, atau mengikuti berbagai forum intelektual. Semua itu memang penting, tetapi tidak akan berarti banyak jika tidak diikuti dengan perubahan dalam diri.
Lebih dari itu, kita perlu membangun karakter dasar yang kuat: disiplin, tanggung jawab, konsistensi, serta kesungguhan dalam setiap langkah kecil yang kita lakukan. Karakter inilah yang pada akhirnya akan menentukan apakah gagasan-gagasan besar yang kita bicarakan dapat benar-benar terwujud atau hanya berhenti sebagai wacana.
Perubahan besar tidak selalu dimulai dari hal-hal yang spektakuler. Ia justru sering lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Menghargai waktu, menepati komitmen, bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas, serta serius dalam setiap kegiatan yang kita ikuti adalah bagian dari langkah awal menuju perubahan tersebut.
Jika kita ingin melihat daerah kita berkembang, maka perubahan itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Sebab pada akhirnya, masa depan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh kebijakan atau sistem, tetapi juga oleh kualitas pemuda yang hidup dan tumbuh di dalamnya.
Dengan demikian, pertanyaannya bukan lagi siapa yang harus berubah, melainkan sejauh mana kita sebagai pemuda siap untuk berubah dan mengambil peran. Karena ketika pemuda mampu memperbaiki dirinya, dari sanalah perubahan yang lebih besar akan menemukan jalannya.
baca juga: Dana Desa Tersedot untuk Koperasi Merah Putih, Desa Terancam Kehilangan Fleksibilitas Pembangunan
Penulis: Julaika Purnami Editor: Irna Damyanti
Biodata Singkat penulis:
Julaika Purnami, sedang merintis menjadi penulis, dengan mengikuti event-event menulis buku antologi dan baru mencoba menulis untuk media. Mulai tertarik tentang isu-isu sosial. Selain menulis, ia sangat suka membaca buku fiksi.
![]()


