
Nahwa Media-Badai NTB BongkarBandar menjadi sorotan publik setelah aktivis perempuan asal Bima itu mengampanyekan gerakan #BongkarBandar yang menyoroti dugaan peredaran narkoba di Nusa Tenggara Barat.
Aktivis yang memiliki nama asli Uswatun Hasanah tersebut berasal dari Desa Ngali, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima. Lahir pada 11 September 1996, ia dikenal sebagai sosok vokal dengan gaya bicara lugas serta aktif mengadvokasi isu perempuan, anak, dan keadilan sosial.
Dalam sejumlah unggahan media sosial, Badai NTB BongkarBandar mengklaim melakukan pengamatan lapangan selama sekitar lima bulan di wilayah Bima dan Dompu saat masa Pilkada. Ia menyebut temuannya menjadi dasar lahirnya gerakan #BongkarBandar yang menurutnya menyoroti aktor utama di balik peredaran narkoba, bukan hanya pengguna.
Menurutnya, kepedulian itu muncul setelah melihat dampak sosial yang ditimbulkan, seperti konflik keluarga, meningkatnya kriminalitas remaja, hingga rusaknya masa depan generasi muda. Ia juga mengaku memilih melaporkan temuan tersebut hingga tingkat pusat karena menilai penanganan di daerah belum maksimal.
Secara akademik, ia merupakan lulusan Universitas Pendidikan Ganesha jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, serta meraih gelar magister Ilmu Ekonomi dari Universitas Mataram. Ia juga pernah menjabat Ketua Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) NTB periode 2022–2025 serta aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Gerakan Badai NTB BongkarBandar memicu perdebatan luas di ruang publik. Sebagian warganet mendukung keberaniannya menyuarakan persoalan narkoba, sementara pihak lain menilai aksinya kontroversial dan disebut telah berujung pada sejumlah laporan hukum.
Hingga kini, isu yang diangkat melalui tagar #BongkarBandar masih terus bergulir di media sosial dan menjadi perhatian masyarakat luas.
baca juga: Sosialisasi UMKM Desa Selelos: Entrepreneur Muda Didorong Bangun Usaha Kreatif dan Berdaya Saing
![]()


