
Oleh: MDP | Manusia Biasa
Kawan-Kawan dewasa ini kita semua tahu bahwa dalam dunia organisasi, kita sangat sering menyaksikan dinamika yang tidak sehat para elit (organisasi) di tingkat atas. Namun ada sebuah peribahasa yang sangat cocok untuk menggambarkan situasi ini: “Gajah-gajah besar beradu, semut-semut kecil pun kena getahnya.” Artinya ini merupakan gambaran sedih dan mirisnya dari kenyataan yang terjadi ketika “para elit organisasi” terjebak dalam konflik kepentingan, sementara masyarakat dan jamaah di lapisan bawah menjadi korban yang terabaikan.
Ketika para petinggi sibuk organisasi beradu argumen, berebut pengaruh, hingga saling menjatuhkan demi ego sektoral, fokus pelayanan kepada umat seketika itu terabaikan. Energi yang seharusnya digunakan untuk memajukan organisasi justru menghabiskan pembakaran dalam api pertikaian internal. Oleh karena itu, mereka yang berada di baris paling bawah (para “semut” yang setia) harus menanggung beban kekacauan yang tidak mereka buat.
Dampak paling nyata dari “perkelahian para gajah” ini merembet ke sektor pendidikan. Kampus-kampus yang bernaung di bawah organisasi mulai tidak terurus. Ribuan mahasiswa yang seharusnya menjadi aset masa depan, menjadi pihak yang hanya dijadikan sebagai alat untuk mempertahankan kepentingannya. Mereka kehilangan arah belajar karena manajemen kampus tidak pasti, fasilitas yang rusak tidak pernah diperbaiki, dan bahkan suasana akademik yang tidak lagi kondusif akibat tarikan politik praktis dari tingkat pusat yang selalu memanfaatkannya bukan memberdayakannya.
Kondisi ini menciptakan luka pada kepercayaan masyarakat. Jamaah yang dulunya berjuang dan berjuang habis-habisan untuk organisasi kini mulai menarik diri. Ada rasa sinisme yang tumbuh: Untuk apa kita berkorban, jika para elit organisasi saja mereka hanya sibuk dengan kepentingannya sendiri? Jika krisis kepercayaan ini terus dibiarkan, maka sekali lagi penurunan fasilitas pendidikan hanyalah awal dari keruntuhan yang lebih besar.
Usul saran saya agar organisasi tidak kehilangan pecinta dan pejuangnya, para pembesar organisasi harus segera mengambil langkah konkrit (1) Rekonsiliasi demi Umat: Petinggi organisasi harus berani menurunkan ego. Duduk bersama bukan untuk bagi-bagi kursi, tapi untuk mempresentasikan kembali pelayanan kepada masyarakat. Kepentingan jamaah harus meletakkan nomor satu di atas kepentingan pribadi atau kelompok. (2) Otonomi Pendidikan: Kampus dan lembaga pendidikan harus disterilkan dari konflik internal ormas. Dan memberikan ruang bagi para pengajar profesional untuk mengelola pendidikan secara mandiri, sehingga siswa tetap bisa belajar dengan fasilitas yang memadai tanpa gangguan dengan berbagai macam konflik yang terjadi. (3) Transparansi Fasilitas: Buktikan komitmen organisasi dengan melakukan perbaikan nyata pada infrastruktur pendidikan. Karena ketika jamaah melihat dana mereka (yang terus disumbangkan untuk kepentingan Bersama) kembali menjadi bangunan sekolah yang layak dan sistem belajar yang bagus serta berbagai macam perbaikan untuk ummat, maka kepercayaan itu akan tumbuh kembali secara perlahan.
Sekali lagi organisasi adalah rumah besar tempat kita bernaung dan harus dipimpin oleh orang yang jauh dari kepentingan senidiri, bukan pula menjadi arena konflik kepentingan (conflict of interest) bagi para pemimpinnya. Para “Gajah” harus sadar bahwa setiap langkah kaki mereka yang kasar bisa mencapai “Semut” yang selama ini menjadi penopang kekuatan organisasi.
Marilah sudah saatnya kita berhenti berjuang dan kembali fokus pada tujuan besar pendiri organisasi dalam hal memajukan pendidikan dan menyejahterakan jamaah. Jangan sampai karena keangkuhan pemimpinnya, organisasi kehilangan generasi penerusnya (mahasiswa) yang berpotensi melanjutkan perjuangan dan cinta yang tulus dari para pengikutnya. Mari kita rawat rumah ini bersama, sebelum semuanya terlambat. STOP GAJAH BERADU… SEBELUM SEMUT BERSATU UNTUK MELAWAN!
![]()


