RA Kartini dalam kumpulan surat-suratnya yang kemudian dihimpun dalam Habis Gelap Terbitlah Terang oleh JH Abendanon menuliskan sebuah pengalaman masa kecil yang tampak sederhana, namun menyimpan lapisan makna tentang bagaimana masa depan perempuan terbentuk sejak awal.
Ia menceritakan ketika masih sekolah, ia ditanya oleh temannya: “Apa cita-citamu?” Kartini kecil tidak menjawab. Ia menggeleng dan berkata, “Saya tidak tahu.”
Pertanyaan itu belum selesai di ruang kelas. Ia pun pulang, hal pertama yang dilakukannya begitu sampai rumah adalah berlari ke ayahnya dan mengungkapkan masalah yang mengganggunya ke ayahnya: ” Ayah, saat dewasa nanti aku akan jadi apa?”
Ayahnya tidak menjawab. Kemudian kakak laki-lakinya menjawab “Memangnya seorang gadis harus menjadi apa? Secara alami ya menjadi Raden ayu, atau menjadi seorang wanita menikah.
Dari situ terlihat satu hal sederhana: bahkan sebelum perempuan sempat membayangkan dirinya, ruang hidupnya sudah lebih dulu ditentukan.
Imajinasi yang Dibatasi Sejak Awal
Kisah Kartini kecil bukan sekadar pengalaman pribadi. Ia mencerminkan pola sosial yang lebih luas pada zamannya: perempuan tidak biasa membayangkan masa depan sebagai pilihan, melainkan sebagai ketentuan.
Anak laki-laki tumbuh dengan kemungkinan peran yang terbuka. Anak perempuan diarahkan pada ruang yang sempit dan dianggap “alamiah”.
Yang dibatasi bukan hanya akses, tapi imajinasi.
Kartini membaca itu bukan sebagai kodrat, melainkan sebagai konstruksi sosial yang bisa dipersoalkan.
Dari Kegelisahan Menuju Kritik Sosial
Kegelisahan itu menjadi dasar pemikiran Kartini dalam surat-suratnya yang dihimpun dalam Habis Gelap Terbitlah Terang . Di sana, ia tidak berhenti pada pengalaman pribadinya, tetapi bergerak ke kritik struktur sosial yang membentuk ketimpangan.
Ia menulis refleksi tajam tentang hubungan pengetahuan dalam rumah tangga:
“ Apa gunanya memaksakan laki-laki menyisihkan uang sekedarnya, jika perempuan yang memegang rumah tangga tidak mengetahui nilai uang itu?”
Di bagian lain, ia menekankan keinginannya untuk terlibat dalam perubahan yang lebih luas:
“Sekiranya undang-undang di negeriku mengizinkan, tidak ada yang lebih kuinginkan selain menyerahkan sepenuhnya untuk pekerjaan dan perjuangan perempuan seperti di Eropa. Tetapi tradisi yang sudah berabad-abad, tidak dapat diubah begitu saja. Masa itu akan datang, aku yakin akan itu. Panggil aku Kartini.”
Di antara batasan dan keyakinan, Kartini membaca perubahan sebagai proses, bukan kejadian instan.
Kebebasan yang Bergeser Bentuk
Lebih dari satu abad kemudian, akses perempuan terhadap pendidikan dan ruang publik terbuka jauh lebih luas. Namun ketimpangannya tidak hilang, ia berubah bentuk.
Perempuan saat ini masih dihadapkan pada standar ganda: tuntutan kemandirian secara ekonomi, namun tetap memikul beban domestik yang tidak seimbang. Dituntut berprestasi, tetapi juga dituntut memenuhi citra sosial yang ideal. Dalam banyak kasus, tekanan itu tidak lagi berupa larangan, melainkan ekspektasi yang bekerja dengan baik dan terus-menerus.
Kebebasan tidak berakhir, ia terus berubah.
Kartini sebagai Gagasan
Membaca Kartini hari ini berarti menempatkannya bukan sebagai simbol, tetapi sebagai gagasan yang terus diuji.
Ia tidak berhenti pada seruan agar perempuan maju. Ia menempatkan pendidikan sebagai kesadaran, dan kesadaran sebagai jalan keluar dari ketimpangan yang dianggap wajar.
Dalam arti itu, Kartini tidak memberikan jawaban akhir. Ia membuka ruang pertanyaan.
Di tengah perubahan zaman, pertanyaan Kartini tentang masa depan perempuan tetap berulang, meski dalam bentuk yang berbeda. Ia hidup di ruang-ruang yang dulunya tidak terbuka, dalam cara berpikir yang terus berubah, di batas yang terus dipersoalkan.
Dan hingga hari ini, pertanyaan itu belum selesai: siapa yang benar-benar diberi ruang untuk membayangkan hidupnya sendiri, dan siapa yang sejak awal sudah diarahkan untuk tidak melangkah terlalu jauh.
Mungkin yang belum selesai dari Kartini bukan kisahnya, tetapi ruang yang ia persoalkan. Karena banyaknya tempat hingga kini, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjalani hidupnya dengan pilihannya sendiri.
Oleh : Mustika Rosyida (Kabid Pemberdayaan Perempuan HMI Nurcholish Madjid Selong)
Referensi: RA Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang; Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja; Susan Blackburn, Perempuan dan Negara di Indonesia Modern.
![]()


