
penulis: Muhammad Daden Pratama
Nahwa Media-Kejernihan berpikir dalam perbedaan merupakan fondasi penting dalam menjaga harmoni kehidupan beragama dan bermasyarakat di tengah realitas sosial yang semakin kompleks. Ketika perbedaan pandangan, keyakinan, dan kepentingan tidak disikapi dengan nalar jernih dan hati nurani, agama justru berpotensi menjadi sumber konflik, bukan solusi. Tulisan ini mengajak pembaca merefleksikan kembali cara beragama agar perbedaan dapat dimaknai sebagai rahmat, bukan ancaman.
Dewasa ini, di negara tercinta kita banyak sekali keresahan terjadi dikalangan masyarakat. Sebut saja Konflik yang sudah ada sejak awal sejarah manusia. Meski ribuan buku telah ditulis untuk mencari solusinya, perbedaan dan pertikaian tetap terjadi. Hal ini sering kali disebabkan karena manusia sulit melepaskan ego, emosi, dan kepentingan pribadinya.
Mereka ini biasanya adalah tokoh tokoh agama yang terkemuka di kalangan masyarakat awam, yang katanya memiliki pandangan yang jernih di mana mereka mempu membuat kenyataan-kenyataan keras dalam hidup menjadi filosofi hidup yang bijak dan penuh makna, bahkan mereka sanggup membangun suatu kehidupan religius,,, Namun dalam banyak hal sering kali tidak menampakkan perilaku hidup sebagai manusia beragama, bahkan diantaranya sering bertikai, saling menyerang dan terjerumus dalam konflik yang meresahkan kehidupan masyarakat.
Maka jangan salahkan masyarakat jika sangat sedikit menaruh keyakinan bahwa agama bisa berperan dalam perubahan dan perbaikan masyarakat. Tetapi sebaliknya, kalau katanya Karl Marx yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan banyak orang yaitu yang melihat agama sering dijadikan “obat penenang” (candu) agar orang menerima penderitaan tanpa mau memperbaiki nasib secara nyata. Justru ia juga menaruh curiga terhadap agama bahkan berkeyakinan bahwa agama lah yang bertanggung jawab atas kemiskinan yang menimpa masyarakat (dalam konteks sosial). Marx lebih kesal lagi ketika melihat agama dan para tokohnya telah berkolusi dengan penguasa yang tiran untuk menindas dan membodohi rakyat.
Karena itu, sebenarnya, yang menjadi sasaran pokok dari kritik Marx bukanlah hakikat Tuhan serta ajaran metafisika agama, melainkan praktek keberagamaan yang menjadikan agama sebagai tempat pelarian dari pergulatan sosial yang memerlukan penyelesaian konkrit.
Sebab memang kalau kita cermati, salah satu kegagalan mencolok dari gerakan agama adalah ketidakmampuannya untuk memelihara prestasinya yang amat monumental dalam menegakkan etika transformasi sosial ketika harus memasuki kehidupan modern. Agama yang pada mulanya hadir sebagai pembawa ruh peradaban serta tiang penyangga bagi tegaknya etika sosial, sekarang cenderung menjadi lembaga himpunan dogma-dogma teologis dan lembaga layanan ritual untuk menampung serta menghibur mereka yang tengah berduka dan frustrasi akibat terpuruk dari panggung politik dan ekonomi serta kegagalan dalam menggapai kebahagiaan hidup saat ini.
Tetapi jelas kita tidak sedang mengikuti Marx yang mengkritik agama; yang kita kritik bukanlah agama tetapi cara beragama. Yaitu, cara beragama yang cenderung tidak toleran terhadap perbedaan, dan yang secara mutlak-mutlakan mengklaim pendapat diri sendiri sebagai yang paling benar, sementara pendapat orang lain pasti salah. Padahal, Allah sendiri telah menegaskan bahwa:
“Seandainya Tuhan menghendaki, niscaya Dia menjadi- kan manusia satu umat (tetapi Tuhan tidak menghendaki itu) sebingga mereka akan terus-menerus berbeda pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu” (QS. Hûd/11: 118-119).
Ayat ini mengingatkan bahwa perbedaan (pendapat, suku, agama) adalah sunnatullah atau hukum alam yang sengaja diciptakan Tuhan. Karena Tuhan tidak menciptakan manusia seragam agar kita bisa saling bekerja sama dan berlomba dalam kebaikan. Dan jika kita melihat perbedaan sebagai ancaman, yang muncul hanyalah kecurigaan dan permusuhan. Sebaliknya, jika kita memiliki kejernihan berpikir, kita akan melihat perbedaan sebagai keindahan dan kekayaan hikmah, laksana ikan yang berenang indah di antara karang yang tajam. Di satu sisi, ia menyimpan kesan keangkeran, namun di sisi lain, justru menimbulkan suasana keindahan yang amat menakjubkan, bukankah dalam hadist Nabi disebutkan bahwa (Ikhtilafu ummati rahmatun) “Perbedaan pendapat dikalangan umatku adalah rahmat”?
Kesimpulannya: Kejernihan berpikir dalam perbedaan menuntut kita untuk beragama dengan hati nurani dan toleransi, bukan dengan kebencian, agar perbedaan tidak menjadi sumber konflik melainkan sumber perubahan dan kemajuan.
By MDP | Manusia Biasa
Referensi :
1. Buku Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern Dr. Nurcholish Madjid
2. Kejernihan Di Tengah Pertikaian
Komaruddin Hidayat
Penulis : Muhammad Daden Pratama.
Editor : Irna Damayanti.
![]()


