OpiniSosial

Ketimpangan Sosial dalam Tutur Bahasa: Ketika Bahasa Kasar Menjadi Normal di Era Digital

1 Mins read

Ketimpangan Sosial dalam Tutur Bahasa: Bahasa yang Berubah di Tengah Tekanan Zaman

nahwa media-Ketimpangan Sosial dalam Tutur Bahasa hari ini tidak lagi sekadar persoalan sopan santun, melainkan potret perubahan sosial yang lebih dalam. Jika dahulu anak-anak masih berpikir dua kali sebelum mengucapkan kata kasar, bahkan sekadar menyebut nama hewan dengan nada tinggi, kini bahasa keras atau nyumpak terasa semakin lumrah terdengar di ruang publik.

Di sebuah sudut tongkrongan remaja, kata-kata kasar meluncur tanpa jeda. Bukan lagi diucapkan dengan rasa takut atau sembunyi-sembunyi, melainkan dengan tawa dan ekspresi yang dianggap biasa. Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya komunikasi, tetapi bagian dari dinamika sosial yang lebih luas.

Di era sebelum media sosial mendominasi, kontrol sosial terasa lebih nyata. Kehadiran orang tua, guru, atau tokoh masyarakat menjadi batas yang tak kasat mata. Bahasa kasar identik dengan teguran dan rasa malu. Namun hari ini, ruang digital menciptakan dunia tanpa sekat. Komentar, unggahan, hingga video viral sering mempertontonkan ujaran keras tanpa konsekuensi yang jelas.

Tekanan hidup yang semakin kompleks turut memperkuat situasi ini. Akses pendidikan yang belum merata, persaingan kerja yang ketat, serta ketidakpastian ekonomi membuat banyak anak muda tumbuh dalam suasana yang penuh kegelisahan. Dalam kondisi seperti itu, bahasa menjadi pelampiasan paling cepat. Kata-kata keras dipakai sebagai simbol perlawanan, ekspresi kekecewaan, atau sekadar cara agar didengar.

Namun di sinilah paradoks muncul. Ketika bahasa kasar menjadi kebiasaan, empati perlahan terkikis. Dialog berubah menjadi debat penuh emosi. Alih-alih menjembatani perbedaan, komunikasi justru memperlebar jarak antarmanusia. Ketimpangan Sosial dalam Tutur Bahasa akhirnya bukan hanya tentang pilihan kata, tetapi tentang kualitas interaksi sosial yang ikut tergerus.

Banyak pemerhati sosial menilai, bahasa selalu menjadi cermin keadaan masyarakat. Jika ruang publik dipenuhi kemarahan, maka kata-kata pun ikut memanas. Jika figur publik tak lagi memberi teladan komunikasi santun, generasi muda pun kehilangan rujukan.

Meski demikian, harapan tetap ada. Bahasa sejatinya adalah alat membangun, bukan meruntuhkan. Mengakui kemarahan adalah hal wajar, tetapi menyampaikannya dengan tegas dan beradab jauh lebih kuat dampaknya. Perubahan sosial tidak lahir dari teriakan semata, melainkan dari percakapan yang jujur dan saling menghargai.

Di tengah derasnya arus digital, tantangan terbesar bukan sekadar menahan kata kasar, tetapi membangun kesadaran bahwa setiap ujaran membawa dampak. Karena pada akhirnya, cara kita berbicara menentukan seperti apa wajah masyarakat yang sedang kita bentuk.

baca juga: Pererat Solidaritas, Pemuda NW Praya Tengah Gelar Muskercab Sambil Camping di Pemepek

Related posts
SantriSosialUncategorized

Transformasi Santri di Era Digital: Wabup Lombok Timur Buka Pelatihan Jurnalistik Dasar di Ponpes Al-Mansyururiyah NW Aik Bukak

1 Mins read
LOMBOK TENGAH —Transformasi Santri di Era Digital menjadi bagian penting dalam menghadapi pesatnya perkembangan media digital dan kreatif. Puluhan santri mengikuti Pelatihan…
LocalSosial

FAKTA Mobile Legends Tournament Season 1 Sukses Digelar di Lombok Tengah

1 Mins read
LOMBOK TENGAH — FAKTA Cafe Praya resmi menggelar turnamen esports bertajuk FAKTA Mobile Legends Tournament Season 1: The Beginning di FAKTA Cafe…
LocalSosial

IAI Hamzanwadi Serahkan Bantuan Korban Kebakaran Sade

1 Mins read
LOMBOK TENGAH — Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi NW Lombok Timur menyerahkan bantuan kepada warga terdampak kebakaran hebat yang melanda Desa Adat…
Berlangganan dengan kami NAHWA MEDIA

Dapatkan Informasi Ter Update Bila Anda Belangganan Dengan Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *