PendidikanOpini

Mahasiswa di Persimpangan Jalan: Antara Idealisme dan Pragmatisme

3 Mins read

Oleh : Ahmad Abror Watoni ( Kader HMI Nurcholish Madjid Selong)

Di tengah percepatan perubahan global—revolusi digital, arus globalisasi, serta dinamika politik dan ekonomi—mahasiswa menempati posisi strategi sebagai kelompok intelektual yang memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan sekaligus ruang refleksi sosial. Namun sebuah pertanyaan penting muncul: apakah mahasiswa hari ini masih menjalankan peran historisnya sebagai penggerak perubahan, atau justru semakin larut dalam arus pragmatisme yang berorientasi semata-mata pada masa depan pribadi?

Dalam sejarah Indonesia, pelajar sering tampil sebagai kekuatan moral masyarakat. Momentum seperti Sumpah Pemuda menunjukkan bagaimana kaum muda mampu menembus identitas kedaerahan dan melahirkan kesadaran nasional. Demikian pula pada masa Reformasi 1998, ketika gerakan mahasiswa menjadi salah satu faktor penting yang mendorong runtuhnya rezim otoritarian dan membuka jalan bagi demokratisasi. Sejarah tersebut menampilkan bahwa pelajar bukan sekadar peserta pendidikan tinggi, melainkan aktor sosial yang memiliki tanggung jawab moral terhadap perjalanan bangsa.

Dalam Al-Qur’an, dinamika perubahan sejarah diingatkan dalam firman Allah SWT:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran : 140)

Ayat ini menegaskan bahwa perubahan sejarah tidak terjadi secara kebetulan, melainkan melalui peran manusia yang sadar akan tanggung jawabnya. Dalam konteks ini, siswa sebagai kelompok intelektual memiliki potensi untuk menjadi bagian dari proses perubahan tersebut.

Namun kenyataan masa kini menghadirkan tantangan baru. Banyak siswa terjebak dalam rutinitas akademik yang bersifat pragmatis. Pendidikan dipandang terutama sebagai sarana untuk memperoleh pekerjaan dan mobilitas ekonomi. Orientasi tersebut tidak sepenuhnya keliru, mengingat tuntutan kehidupan modern dan persaingan pasar kerja yang semakin ketat. Akan tetapi, ketika pragmatisme menjadi satu-satunya orientasi, fungsi kritis siswa terhadap realitas sosial berpotensi melemah.

Pemikir pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, menyebut pendidikan sebagai proses conscientization—pembentukan kesadaran kritis terhadap realitas sosial. Tanpa kesadaran ini, pendidikan hanya menghasilkan individu yang terampil secara teknis tetapi pasif dalam perlakuan ketidakadilan sosial. Senada dengan itu, pemikir Italia Antonio Gramsci menekankan peran pentingnya intelektual organik, yaitu intelektual yang tidak terpisah dari masyarakat dan mampu membangun kesadaran kolektif untuk mengkritisi struktur kekuasaan.

Meski demikian, idealisme mahasiswa juga perlu membayangkan realitas kehidupan yang konkret. Idealisme yang tidak disertai kemampuan praktis sering berakhir sebagai wacana tanpa dampak nyata. Sebaliknya, pragmatisme yang sepenuhnya terlepas dari nilai-nilai moral dapat melahirkan generasi profesional yang sukses secara individu tetapi abai terhadap kepentingan publik.

Pentingnya mencari titik temu antara idealisme dan pragmatisme. Idealisme memberi arah moral dan visi perubahan, sedangkan pragmatisme menyediakan strategi serta keterampilan untuk mewujudkan gagasan tersebut dalam praktik. Mahasiswa yang ideal bukan hanya mereka yang kritis terhadap realitas sosial, namun juga mampu menawarkan solusi yang konkrit dan aplikatif.

Dalam perspektif Islam, pencarian ilmu memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang mendaki jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkannya jalan menuju surga.” (HR.Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa ilmu bukan sekedar alat untuk meraih keuntungan duniawi, melainkan sarana untuk menghadirkan kemaslahatan bagi manusia. Dengan demikian, ilmu yang sejati tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kebangkitan kembali peran siswa sebagai kekuatan intelektual dan moral setidaknya bergantung pada tiga hal. Pertama, kesadaran intelektual: kemampuan berpikir kritis dan memahami dinamika sosial di sekitarnya. Kedua, integritas moral: komitmen terhadap nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab dalam menggunakan ilmu. Ketiga, keberanian sosial: kesediaan untuk menyuarakan kebenaran dan terlibat dalam upaya perubahan.

Sejarah menunjukkan bahwa gagasan besar sering lahir dari ruang-ruang sederhana di lingkungan kampus—perpustakaan, forum diskusi, hingga organisasi kemahasiswaan. Di tempat-tempat itulah siswa belajar bahwa pendidikan tidak hanya tentang masa depan pribadi, tetapi juga tentang masa depan masyarakat.

Pada akhirnya, mahasiswa memang berada di persimpangan antara idealisme dan pragmatisme. Tantangan zaman yang menuntut keduanya tidak dipertentangkan, melainkan dipadukan secara bijak. Idealisme memberi arah moral dan keberanian untuk bermimpi tentang perubahan, sementara pragmatisme menyediakan langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya. Jika keseimbangan ini dapat dijaga, maka mahasiswa tidak hanya akan menjadi pencari gelar atau pengamat sosial, tetapi juga aktor intelektual yang mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan masyarakat dan perjalanan sejarah bangsanya.

 

Referensi

1. Al-Qur’an, Surat Ali Imran ayat 140.

2. Sahih Muslim, Kitab Dzikir dan Doa, hadis tentang keutamaan tuntutan ilmu.

3. Paulo Freire, Pedagogi Kaum Tertindas. New York: Continuum, 1970.

4. Antonio Gramsci, Pilihan dari Catatan Harian Penjara. New York: International Publishers, 1971.

5. Sumpah Pemuda dalam berbagai kajian sejarah nasional Indonesia.

5. Reformasi 1998 dalam sastra sejarah politik Indonesia modern.

Related posts
Opini

Sekolah Rakyat Mengingatkan Generasi Muda bahwa Pendidikan Belum Merata

2 Mins read
Nahwa Media-Pembangunan pendidikan di Indonesia terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Berbagai program diluncurkan pemerintah untuk memperluas akses belajar bagi seluruh…
DakwahNWOpini

Ini Soal Transformasi Juang. Titik!

5 Mins read
  Ini Soal Transformasi Juang. Titik! 1 Maret 1953—tepat pada 15 Jumadil Akhir 1372 H. Sebuah titik mula sejarah ditorehkan di pulau…
Pendidikan

SNOOZE GOES TO SCHOOL: Gerakan Literasi Anak Muda di SMKN 1 Praya Tengah

2 Mins read
Di tengah derasnya arus media sosial dan kebiasaan generasi muda yang semakin lekat dengan gadget, program SNOOZE GOES TO SCHOOL hadir membawa…
Berlangganan dengan kami NAHWA MEDIA

Dapatkan Informasi Ter Update Bila Anda Belangganan Dengan Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *