Menjaga Kelestarian Bahasa Sasak: Langkah Nyata Budayawan dan Akademisi Menuju Kongres Internasional I
Kelestarian bahasa sasak kini menjadi perhatian utama masyarakat Lombok di tengah pesatnya arus modernisasi dan perubahan zaman. Sebagai identitas dan kekayaan tutur masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB), keberadaan Bahasa Sasak membutuhkan langkah perlindungan secara nyata, terencana, dan berkesinambungan agar tidak perlahan tergerus oleh era digital.
Menanggapi hal tersebut, sejumlah tokoh adat, pakar, akademisi, hingga pemerhati budaya menggelar pertemuan koordinasi di Edupark RuaRasa pada Rabu (19/8/2026). Pertemuan ini diselenggarakan untuk mematangkan agenda Kongres Internasional I Bahasa Sasak yang dirancang sebagai pilar utama pelestarian budaya daerah.
Pertemuan konsolidasi tersebut dihadiri oleh berbagai pihak penting. Di antaranya hadir Dr. H. L. Sajim Sastrawan, MH dari Majelis Adat Sasak serta pakar kebudayaan Prof. Dr. H. Jamaluddin, MA. Kehadiran para tokoh ini mempertegas komitmen bersama bahwa menjaga tutur kata warisan leluhur adalah tanggung jawab lintas generasi.
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi harian, melainkan wadah penyimpan nilai moral, norma adat, kearifan lokal, dan sejarah panjang masyarakat Lombok yang tidak boleh hilang.
Forum internasional yang sedang dirancang ini dipastikan tidak hanya sekadar ajang berkumpul atau kegiatan seremonial semata. Lebih dari itu, kongres ini ditargetkan mampu menghasilkan rekomendasi dan gagasan konkret untuk memperkuat posisi Bahasa Sasak di dunia pendidikan maupun kehidupan publik.
Beberapa agenda penting yang akan didorong dalam kongres mendatang mencakup:
-
Dokumentasi dan Kodifikasi: Pencatatan tata bahasa, kosa kata lama, dan manuskrip tradisional secara terstruktur.
-
Pengembangan Literasi: Penulisan buku, kamus digital, dan bahan ajar yang relevan untuk anak-anak serta remaja.
-
Pengenalan Global: Mengangkat kajian Bahasa Sasak dari perspektif ilmiah agar dikenal luas di panggung akademik internasional.
Tantangan terbesar dalam menjaga kelestarian bahasa sasak saat ini adalah regenerasi penutur aktif di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, keterlibatan kalangan akademisi dan peneliti diharapkan mampu menghasilkan metode pengajaran bahasa yang lebih menarik, adaptif, serta ramah terhadap perkembangan teknologi modern.
Melalui persiapan matang dan sinergi dari seluruh lapisan masyarakat, Kongres Internasional I Bahasa Sasak diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam menjaga warisan budaya Lombok agar tetap lestari dan membanggakan hingga masa depan.
![]()



