KeislamanOpiniPendidikan

TERJEBAK OLEH MIMPI: Benarkah Mimpi adalah Jawaban dari Shalat Istikharah?

5 Mins read

Oleh: Abdul Hanan, M.Sos.  |  Kamis, 31 Juli 2025

 Sebelum kita melangkah lebih jauh, izinkan saya membuka dengan kisah seorang lelaki kampung yang membangun hubungan penuh cinta dan komitmen dengan seorang perempuan yang tak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tumbuh dari rahim kesalehan dan kedalaman spiritual. Hubungan mereka tak sebentar, telah dirajut lama, dengan benang harapan dan kepercayaan. Namun, semuanya berakhir bukan karena perselingkuhan atau pengkhianatan, melainkan oleh sebuah istikharah yang ditafsirkan dalam kondisi emosional—sebuah petunjuk yang disangka datang dari langit, padahal mungkin hanya gema dari kegelisahan di dalam hati dan pikiran.

Ceritanya begini, dua pasangan ini sudah menjalani hubungan yang cukup lama dan sama-sama membangun komitmen untuk ke jenjang lebih serius dan menikah. Mereka telah lama saling mencintai, saling menguatkan, dan membangun komitmen untuk menua bersama.

Janjinya sederhana: “Setelah kuliah magistermu selesai, aku akan datang melamarmu.” Dan ia menepatinya.

Namun, tepat ketika perempuan itu menyelesaikan studinya, komunikasi dan bahasa mereka justru merenggang. Sebulan penuh—hanya sunyi yang jadi jembatan.

Perempuan itu bukan sekadar kekasih biasa. Ia tumbuh dari rahim pesantren, terbiasa merujuk Tuhan sebelum mengambil keputusan besar. Sebesar apa pun cintanya, ia tak ingin menikah hanya karena janji manusia. Ia butuh isyarat langit. Maka ia diam, menanti jawaban dalam sujud istikharahnya.

Sebulan kemudian, sang lelaki datang dengan niat yang sama: melamar. Ia mengetuk kembali pintu yang pernah terbuka untuknya. Namun pintu itu telah tertutup rapat—bukan karena amarah, tapi karena takdir.

Satu notifikasi WhatsApp menjatuhkan langitnya: foto sang perempuan bersanding dengan lelaki lain, berlatar biru, penuh senyum dan restu.

Tak ada hujan. Tak ada angin. Notifikasi itu datang tiba-tiba—saat ia sudah benar-benar siap kembali. Setelah sekian waktu menyusun niat dan menyiapkan keberanian, ia hendak kembali meminta maaf… membuka kembali pintu yang dulu mereka bangun bersama dengan harapan dan doa.

Tapi layar ponselnya menampilkan pemandangan yang tak pernah ia bayangkan: perempuan yang ia cintai, berdiri bersanding dengan lelaki lain, berlatar biru, tersenyum bahagia.

Sejak itu, hidupnya seperti diredupkan perlahan. Ia tetap berjalan, namun seperti kehilangan tanah di bawah kakinya. Ia masih tertawa, tapi hanya agar orang tak curiga kenapa dadanya terasa berat dan sempit.

Ia tak menyalahkan siapa-siapa. Hanya ingin tahu… kenapa? Apa yang membuat cinta yang begitu mereka jaga, runtuh hanya dalam satu bulan sunyi?

Dan dia sudah tahu.

Selama sebulan itu, perempuan yang lahir dari rahim pesantren itu mengadu kepada Tuhan dalam sujud panjangnya. Ia melaksanakan istikharah—memohon petunjuk untuk melangkah. Dan dalam tidur-tidurnya, lelaki yang hadir bukan dirinya.

Ternyata mimpi itu… menjadi penentu.

Lelaki itu terpaku. Bukan hanya karena hatinya remuk dan penuh sesak, tapi karena dalam keyakinan yang ia pahami, mimpi bukanlah dalil mutlak. Apalagi disaat hati sedang guncang, emosiaonal belum stabil, saat pikiran masih kabur oleh luka dan kecewa.

Tapi apa gunanya tanya? Nasi telah jadi bubur, dan senja yang dulu mereka nantikan bersama, telah tenggelam di balik pelaminan orang lain.

Ia hanya bisa menyesali satu hal: mengapa tak sempat ia beri tahu bahwa jalan menuju hatinya sedang longsor, bahwa ia tidak pergi, hanya sedang membenahi jalannya pulang.

Namun semua sudah terlambat.

Syahdan, dari cerita ini, penting kiranya kita merumuskan kembali bagaimana peran istikharah di hadapan persoalan demi persoalan dan kebimbangan yang kita hadapi. Dan, haruskah memiliki kapabilitas mumpuni untuk beristikharah?

Dan kini ia tahu, bukan hanya cinta yang butuh kesiapan, tapi juga istikharah. Karena tak semua orang mampu membaca isyarat langit tanpa lebih dulu menjernihkan kabut dalam jiwanya.

Dalam Islam, shalat istikharah sudah sangat masyhur diketahui oleh umat muslim dan dilaksanakan bagi orang-orang yang memiliki kebimbangan dalam menentukan dan memutuskan dua pilihan. Hal ini sudah diajarkan oleh Rasulullah saw. melalui Jabir bin Abdillah dalam riwayat Imam Bukhari:

“Rasulullah saw mengajari kami (para sahabat) untuk salat istikharah ketika menghadapi setiap persoalan, sebagaimana beliau mengajari kami semua surat dari Al-Quran. Beliau bersabda, ‘Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat sunnah dua rakaat …”

Setiap orang pasti akan dihadapkan dengan dengan berbagai pilihan dalam hidupnya yang kemudian membuatnya rasa kebingungan harus berbuat apa. Bahkan tidak sedikit orang mengalami stres saat masalahnya tidak bisa terpecahkan. Maka tujuan dilaksanakannya shalat Istikharah adalah untuk menumbuhkan kemantapan hati bagi orang yang sedang menghadapi kesulitan atau kebimbangan dalam menentukan sebuah keputusan diantara dua pilihan.  Sehingga tidak dianjurkan bagi orang yang sudah memiliki kemantapan hati dalam menentukan keputusan. Pun begitu juga kepada orang yang sudah memiliki kecondongan dalam dua pilihannya.

Karena ini adalah perkara yang akan melibatkan Allah melalui petunjuk-Nya, lalu setelah melaksanakan shalat istikharah bagaimana cara kita mengetahui jawaban atau petunjuk dari Allah atas dua pilihan yang membingungkan tersebut?

Banyak sekali orang yang terjebak dengan pemahaman bahwa jawaban atau petunjuk dari istikharah adalah melalui perantara mimpi. Sekali lagi “mimpi”. Benarkah meski demikian? Ternyata tidak.

Ini bukan tanpa alasan. Tapi setelah kita coba telusuri lebih dalam ternyata tidak ada dalil syara’ yang mengatakan demikian. Bahkan, para ulama menyatakan bahwa antara petunjuk yang diberikan Allah Swt. kepada orang yang melaksanakan istikharah ialah dengan apa yang dilapangkan dalam dadanya ketika menentukan sebuah keputusan. Hal ini disebutkan oleh Imam al-Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar:

وَإِذَا اسْتَخَارَ مَضَى بَعْدَهَا لِمَا يَنْشَرِحُ لَهُ صَدْرُهُ

Dan apabila seseorang itu selesai melaksanakan istikharah, maka hendaklah dia melakukan urusannya menurut apa yang dilapangkan dadanya untuk membuat keputusan.” (Lihat al-Azkar al-Nawawiyyah, 2/241)

Mengutip dari apa yang dilansir pada situs NU Online, Syaikh Said Ramadhan al-Buthi dalam himpunan fatwanya, Masyurat Ijtima’iyyat pernah ditanya persoalan seperti di atas:

هل يوجد نص شرعي حول تعلق الاستخارة بالرؤية؟

لا علاقة لصلاة الاستخارة برؤية المنامات . بل هي مجرد صلاة ثم دعاء مأثور عن رسول الله . وليتابع بعد ذلك العمل على مشروعه الذي استخار الله له. فإن كان خيرا يسر الله له بلوغه، وإن لم يكن خيرا صرفه الله عنه  .

“Apakah ditemukan dalil syara’ tentang hubungan shalat istikharah dengan mimpi pada saat tidur?

Tidak ada hubungan antara shalat istikharah dengan mimpi saat tidur, bahkan shalat istikharah itu hanya sebatas melaksanakan shalat lalu berdoa dengan doa yang disarikan dari Rasulullah. Lalu iringilah dengan melakukan perbuatan yang diistikharahi. Jika perbuatan itu baik, maka Allah akan mudahkan, dan jika buruk maka Allah akan memalingkan seseorang dari perbuatan tersebut.” (Lihat Syaikh Said Ramadhan al-Buthi, Masyurat Ijtima’iyyat, hal. 158)

Maka jelaslah bahwa tidak ada keterkaitan sama sekali antara shalat istikharah dengan mimpi yang dialami oleh seseorang. Lebih tegas lagi beliau mengatakan bahwa hendaklah seseorang yang melaksanakan istikharah untuk bergegas melakukan apa yang diistikharahkan. Jika perbuatan itu baik, maka Allah pasti akan memberikan kemudahan, dan jika buruk maka Allah akan memalingkan seseorang dari perbuatan tersebut.

Namun yang menjadi problem adalah sering sekali seseorang mengambil keputusan hanya melalui apa yang mereka lihat di dalam mimpinya, padahal kemantapan hatinya lebih condong ke pilihan lain.

Pandangan keliru terkait dengan petunjuk melalui mimpi juga difatwakan oleh ulama kenamaan Mesir, yaitu Syaikh Mutawali asy-Sya’rawi:

وهل ما يراه الإنسان في منامه بعد الاستخارة يدل على القبول أو الرفض؟

ويجيب فضيلة الشيخ الشعراوي :إن الرؤيا في المنام لیست واردة في الاستخارة ، ولكن ما نراه في المنام يأتي من شغل البال بالموضوع . إنما الاستخارة الشرعية التي علمنا إياها النبي  هي : أن نصلي ركعتين، ثم نسأل الله بالدعاء المعروف  – ثم ما ينشرح له صدرك  بعد ذلك فهو ما يريده الله لك

“Apakah mimpi yang dialami oleh seseorang setelah shalat istikharah menunjukkan diterimanya hal yang ia istikharahi (di sisi Allah) atau tertolaknya hal tersebut?

Syekh as-Sya’rawi menjelaskan bahwa mimpi pada saat tidur tidaklah berlaku pada shalat istikharah, tetapi mimpi tersebut bermula dari isi hatinya terhadap suatu subjek tertentu. Istikharah secara syara’ hanya tertentu pada hal yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, yakni shalat dua rakaat lalu memohon pada Allah dengan doa yang sudah dijelaskan (dalam hadits), lalu apa yang tercerahkan (merasa lega) dalam hatimu setelah melaksanakan shalat dan doa istikharah, maka itulah hal yang dikehendaki oleh Allah padamu.” (Lihat Syaikh Mutawali as-Sya’rawi, al-Fatawa as-Sya’rawi, halaman 702).

Walaupun dua pendapat ini berbeda, namun ada satu kesepakatan jelas bahwa tidak ada kaitan antara mimpi dengan istikharah yang dilaksanakan. Mimpi yang datang setelah melaksanakan istikharah tidak selalu berarti petunjuk langsung dari Allah. Bisa jadi mimpi itu muncul karena kondisi hati, emosional, pikiran, atau kecenderungan kita sendiri terhadap pilihan yang sedang dipikirkan, bukan karena wahyu atau jawaban Ilahi.

Jadi, yang lebih penting dalam istikharah adalah ketenangan hati dan kemantapan pilihan dalam mengambil keputusan, bukan menunggu mimpi. Maka dengan demikian kita dapat mengambil kesimpulan bahwa jawaban atau petunjuk Allah dari istikharah itu sendiri dapat dilihat dua keadaan:

Pertama, kemudahan yang diperoleh dalam proses mewujudkan apa yang diistikharahkan.

Kedua, ketentraman jiwa, kelapangan dada, hati, pikiran, emosional, dan kecondongan pada satu pilihan.

Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa hasil istikharah tidak selalu datang melalui mimpi. Sebab, dapat kita pertegas bahwa mimpi yang dialamai oleh seseorang setelah melaksanakan istikharah sering sekali hanya merupakan cerminan dari kondisi emosional atau pikiran yang terus mengisi benak seseorang, bukan merupakan bentuk petunjuk langsung dari Allah atas istikharahnya.

Wallahua’lam

Related posts
Pendidikan

SNOOZE GOES TO SCHOOL: Gerakan Literasi Anak Muda di SMKN 1 Praya Tengah

2 Mins read
Di tengah derasnya arus media sosial dan kebiasaan generasi muda yang semakin lekat dengan gadget, program SNOOZE GOES TO SCHOOL hadir membawa…
Pendidikan

Mahasiswa IAIH NW Lombok Timur Raih Bronze Medal di Mandalika Essay Competition MEC 8

1 Mins read
LOMBOK TIMUR — Mahasiswa IAIH NW Lombok Timur raih Bronze Medal pada ajang nasional Mandalika Essay Competition (MEC) 8 yang berlangsung pada…
Opini

Kontroversi Film Dokumenter Pesta Babi dan Buramnya Demokrasi Indonesia

3 Mins read
Penulis: Heru Kurniawan(Kader HMI Nurcholish Madjid) Editor: Irna Sj Kontroversi film dokumenter Pesta Babi membuka perdebatan tentang kebebasan berekspresi, ruang diskusi publik,…
Berlangganan dengan kami NAHWA MEDIA

Dapatkan Informasi Ter Update Bila Anda Belangganan Dengan Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *