Juliana Marins, seorang turis asal Brasil, dilaporkan tewas setelah terjatuh dari tebing Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, pada 21 Juni 2025. Peristiwa ini kembali menjadi sorotan setelah keluarganya di Brasil mengirimkan surat terbuka ke pemerintah Indonesia yang menyuarakan kekecewaan atas minimnya sistem pengamanan di jalur pendakian. Jenazah korban telah dievakuasi pada 25 Juni setelah melalui proses evakuasi yang rumit dan panjang.
Menurut keterangan rekan pendaki korban, Juliana tergelincir saat mengambil foto di tepi kaldera Danau Segara Anak. Tidak adanya pagar pembatas atau tanda peringatan di lokasi tersebut dianggap sebagai salah satu penyebab kecelakaan tragis ini. Ia juga menyebutkan bahwa jalur pendakian Rinjani cukup ekstrem dan minim pengawasan petugas di jalur rawan.
Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Pariwisata menyampaikan belasungkawa dan berjanji akan mengevaluasi sistem keamanan dan fasilitas pendukung di kawasan pendakian Rinjani. Saat ini, jalur pendakian dari Senaru dan Sembalun sedang dikaji ulang untuk penambahan rambu, pagar pengaman, dan pengawasan petugas. Pihak Taman Nasional Gunung Rinjani juga mulai menggandeng komunitas lokal untuk pelatihan pemandu yang lebih profesional.
Kasus ini menjadi cermin penting bagi dunia pariwisata alam Indonesia. Di tengah lonjakan wisatawan mancanegara, keselamatan wisatawan seharusnya menjadi prioritas utama. Jika tidak ditangani serius, Indonesia bisa kehilangan kepercayaan wisatawan global terhadap destinasi wisata alam unggulannya seperti Rinjani, Semeru, dan Bromo.
![]()


