OpiniNasional

Andrie Yunus Menjadi Laboratorium Nyata Arogansi Militer

1 Mins read

Nahwa Media – Kasus ini bukan sekadar tragedi bagi seorang aktivis. Ia adalah laboratorium nyata yang menampilkan kritik ironi terhadap militer Indonesia: ketika suara kritis disuarakan dengan tegas, respons yang diterima justru membuktikan sebagian besar kritik itu benar.

Dalam sejarah perjuangan sipil, jarang sekali sebuah kritik dibuktikan kebenarannya secara instan dan tragis oleh pihak yang dikritik. Tragedi yang menimpa Andrie merupakan wujud dari ironi tersebut.

Ketika Puspom TNI mengkonfirmasi empat kecurigaan penyiraman air keras yang berasal dari Detasemen Markas (Denma) Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, masyarakat menyaksikan validasi yang dipaksakan.

Selama ini, Andrie Yunus menyuarakan satu pesan sentral: militer Indonesia perlu dievaluasi secara mendalam. Ia menuntut transparansi, akuntabilitas, dan kejelasan yang tegas antara fungsi perlindungan dengan urusan dalam negeri. Jawaban yang ia terima bukanlah sanggahan data, melainkan zat kimia dari tangan-tangan personel intelijen negara.

Munculnya empat personel dalam satu operasi kolektif ini membuktikan bahwa memang ada masalah serius dalam kultur pengawasan internal.

Mereka tidak hanya menyiram wajah Andrie, mereka juga menyiram wajah hukum kita dengan arogansi kekuasaan yang ia kritiki selama ini. Kritik Andrie mengenai perlunya evaluasi fungsi militer kini menemukan “laboratorium” pembuktiannya.

Di saat dunia cemas memperlihatkan percikan perang di Timur Tengah yang mengancam jalur energi nasional, personel BAIS seharusnya sibuk melakukan analisis strategi kontra-intelijen di wilayah tersebut.

Namun, ketika aset negara ini justru “diaktifkan untuk memetakan rute pulang seorang aktivis dan menyiapkan cairan kimia,” disorientasi mandat itu telah mencapai titik nadir.

Kejadian ini membuktikan satu hal: militer memang perlu dievaluasi, bukan karena kita membencinya, tetapi karena kita ingin ia tetap berada di jalurnya sebagai pelindung kedaulatan, bukan instrumen penggetar nyali rakyat sendiri.

 

 

Oleh: MustikaRoyida (Kabid Pemberdayaan Perempuan HMI Nurcholish Madjid Selong)

Related posts
KeislamanOpiniPendidikan

Memudarnya Ashabiyah dalam Organisasi Mahasiswa Daerah: Refleksi IPNW Kalsel

9 Mins read
Penulis: Aksara Sosial (Muhammad Najib Ali) Editor: Irna Damayanti Memudarnya ashabiyah dalam organisasi mahasiswa daerah kini menjadi isu krusial yang kerap luput…
AqidahKeislamanOpini

Kecerdasan Nabi Muhammad: Membaca Ulang Mukjizat Aqliyah untuk Peradaban Modern

3 Mins read
Kecerdasan Nabi Muhammad merupakan salah satu mukjizat terbesar Rasulullah SAW yang relevansinya terus hidup sepanjang zaman. Berbeda dengan mukjizat yang bersifat kauniyah,…
OpiniPendidikanSosial

Dari Tontonan ke Tuntunan: Saat Agama Dipelajari dari Algoritma

4 Mins read
Nahwa Media– Agama dipelajari dari algoritma kini menjadi fenomena yang semakin nyata di era digital. Pagi ini, sama seperti jutaan orang lainnya,…
Berlangganan dengan kami NAHWA MEDIA

Dapatkan Informasi Ter Update Bila Anda Belangganan Dengan Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *