SosialOpini

Antara Cari Uang dan Urus Anak: Emansipasi atau Jebakan Beban Ganda Perempuan di Pelosok Lombok

1 Mins read

Di pelosok Lombok, pemandangan perempuan yang pergi ke sawah sejak fajar atau memanggul bakul dagangan ke pasar adalah hal biasa. Banyak yang menyebut ini sebagai kemajuan atau emansipasi, di mana perempuan kini sudah bebas membantu ekonomi keluarga dan tidak lagi hanya “nurut” di dalam rumah. Namun, jika kita melihat lebih dekat ke balik pintu rumah mereka, ada kenyataan pahit yang sering tersembunyi: sebuah jebakan bernama beban ganda.

Bagi banyak ibu di desa, “boleh bekerja” ternyata bukan berarti tugas rumah tangganya berkurang. Bayangkan, setelah seharian memeras keringat di bawah terik matahari demi menambah uang belanja, mereka pulang bukan untuk istirahat. Begitu sampai di rumah, tugas sebagai “menteri domestik” sudah menanti, mulai dari memasak, mencuci baju secara manual, hingga memandikan dan menyuapi anak. Di sini, waktu istirahat bagi perempuan seolah menjadi barang mewah yang mustahil terbeli.

Ironisnya, di daerah terpencil dengan fasilitas yang terbatas, pekerjaan rumah tangga menjadi berkali-kali lipat lebih melelahkan. Tanpa mesin cuci atau akses air bersih yang mudah, tenaga perempuan terkuras habis bahkan sebelum mereka berangkat bekerja mencari nafkah. Namun, standar sosial di masyarakat pedesaan sering kali tetap menuntut mereka menjadi “ibu yang sempurna.” Jika anak terlihat tidak terurus atau rumah berantakan, telunjuk warga akan langsung mengarah ke si ibu, seolah mengurus anak adalah tugas tunggal perempuan saja.

Inilah yang kita sebut sebagai jebakan. Emansipasi sering kali disalahartikan hanya sebagai “izin bekerja,” tanpa ada pembagian peran yang adil di rumah. Banyak suami yang merasa tugasnya selesai setelah pulang dari ladang, sementara istri dianggap memiliki stamina tanpa batas untuk lanjut mengurus dapur dan anak. Tanpa adanya kesadaran dari pasangan untuk ikut memegang sapu atau mengganti popok, perempuan di pelosok Lombok sebenarnya tidak sedang merdeka, melainkan sedang memikul beban dua dunia di pundak mereka sendirian.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Menjadi perempuan hebat bukan berarti harus menanggung semuanya sendirian sampai tumbang. Emansipasi yang sesungguhnya di pelosok Lombok harus dimulai dari meja makan dan ruang tamu, di mana suami dan istri duduk bersama untuk membagi peran secara adil. Karena sehebat apa pun seorang perempuan, dia tetaplah manusia biasa yang butuh tangan untuk membantu, bukan sekadar pujian “tangguh” yang mematikan.

 

Oleh: Dewi Lestari (Kabid Pemberdayaan Perempuan Asosiasi Pemuda Inspirator Indonesia Kabupaten Lombok Tengah)

 

Related posts
LocalPendidikanPesantrenSantriSosial

Siapkan Santri Jadi Penggerak Media, Ponpes Ahlussunnah NW Otak Kebon Gelar Workshop Literasi Digital

1 Mins read
Lombok Timur–Pondok Pesantren Ahlussunnah NW Otak Kebon menggelar Workshop Literasi Digital bertema “Transformasi Santri Menjadi Penggerak Media Kreatif” pada Sabtu (11/7/2026). Kegiatan…
AqidahKeislamanOpini

Kecerdasan Nabi Muhammad: Membaca Ulang Mukjizat Aqliyah untuk Peradaban Modern

3 Mins read
Kecerdasan Nabi Muhammad merupakan salah satu mukjizat terbesar Rasulullah SAW yang relevansinya terus hidup sepanjang zaman. Berbeda dengan mukjizat yang bersifat kauniyah,…
FiqihSosial

Pemahaman Fiqih Generasi Muda: Diskusi Keilmuan Majlis Ngopi di Anjani

1 Mins read
Pemahaman Fiqih Generasi Muda menjadi topik utama dalam diskusi keilmuan yang kembali digelar oleh Majlis Ngopi (Ngobrol Perkara Ilmu) di markasnya yang…
Berlangganan dengan kami NAHWA MEDIA

Dapatkan Informasi Ter Update Bila Anda Belangganan Dengan Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *