Di pelosok Lombok, pemandangan perempuan yang pergi ke sawah sejak fajar atau memanggul bakul dagangan ke pasar adalah hal biasa. Banyak yang menyebut ini sebagai kemajuan atau emansipasi, di mana perempuan kini sudah bebas membantu ekonomi keluarga dan tidak lagi hanya “nurut” di dalam rumah. Namun, jika kita melihat lebih dekat ke balik pintu rumah mereka, ada kenyataan pahit yang sering tersembunyi: sebuah jebakan bernama beban ganda.
Bagi banyak ibu di desa, “boleh bekerja” ternyata bukan berarti tugas rumah tangganya berkurang. Bayangkan, setelah seharian memeras keringat di bawah terik matahari demi menambah uang belanja, mereka pulang bukan untuk istirahat. Begitu sampai di rumah, tugas sebagai “menteri domestik” sudah menanti, mulai dari memasak, mencuci baju secara manual, hingga memandikan dan menyuapi anak. Di sini, waktu istirahat bagi perempuan seolah menjadi barang mewah yang mustahil terbeli.
Ironisnya, di daerah terpencil dengan fasilitas yang terbatas, pekerjaan rumah tangga menjadi berkali-kali lipat lebih melelahkan. Tanpa mesin cuci atau akses air bersih yang mudah, tenaga perempuan terkuras habis bahkan sebelum mereka berangkat bekerja mencari nafkah. Namun, standar sosial di masyarakat pedesaan sering kali tetap menuntut mereka menjadi “ibu yang sempurna.” Jika anak terlihat tidak terurus atau rumah berantakan, telunjuk warga akan langsung mengarah ke si ibu, seolah mengurus anak adalah tugas tunggal perempuan saja.
Inilah yang kita sebut sebagai jebakan. Emansipasi sering kali disalahartikan hanya sebagai “izin bekerja,” tanpa ada pembagian peran yang adil di rumah. Banyak suami yang merasa tugasnya selesai setelah pulang dari ladang, sementara istri dianggap memiliki stamina tanpa batas untuk lanjut mengurus dapur dan anak. Tanpa adanya kesadaran dari pasangan untuk ikut memegang sapu atau mengganti popok, perempuan di pelosok Lombok sebenarnya tidak sedang merdeka, melainkan sedang memikul beban dua dunia di pundak mereka sendirian.
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Menjadi perempuan hebat bukan berarti harus menanggung semuanya sendirian sampai tumbang. Emansipasi yang sesungguhnya di pelosok Lombok harus dimulai dari meja makan dan ruang tamu, di mana suami dan istri duduk bersama untuk membagi peran secara adil. Karena sehebat apa pun seorang perempuan, dia tetaplah manusia biasa yang butuh tangan untuk membantu, bukan sekadar pujian “tangguh” yang mematikan.
Oleh: Dewi Lestari (Kabid Pemberdayaan Perempuan Asosiasi Pemuda Inspirator Indonesia Kabupaten Lombok Tengah)
![]()


