
Sampai kapan kita terus-terusan menyalahkan faktor-faktor eksternal yang tidak bisa kita kendalikan dalam hidup ini?
Per-tanggal 28 Desember korban banjir dan longsor Sumatera berdasar hasil liputan Kompas.com 174 korban jiwa. Sedangkan di Aceh berdasar hasil liputan kompas.com dinyatakan 35 korban jiwa, 25 orang dinyatakan hilang per-28 Desember.
Lagi-lagi ini bukan hanya tentang curah hujan yang tinggi dan faktor cuaca ekstrem, tapi mari kita cek sama-sama ada berapa banyak tambang di seluruh pulau Sumatera, Aceh dan seluruh penjuru negeri, apa iya dengan peristiwa ini kita menutup mata tentang fakta-fakta ironis yang terjadi dilapangan. Lalu pemerintah mengklaim dengan apa yang diungkapkan Menteri PMK, Pratikno di Channel Youtube Kompas TV, ia menyebut bahwa peristiwa ini terjadi karna badai tropis senyar itu yang mengakibatkan curah hujan lebat.
sumber : kompas.com
Dari sini bisa diklaim bahwa pemerintah tidak becus dalam mengkawal segala kemungkinan situasi yang terjadi dalam negeri ini. Mereka menutup mata rapat-rapat akibat ulah penguasa, oligarki dan orang-orang lingkaran setan biadab itu membabat hutan semaunya, untuk menyelamatkan proyek tambangnya, perkebunan kelapa sawitnya hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan. Berapa ribu kayu gelondongan yang mengalir dari sungai hingga ke pantai Sumatera.
Tambang tidak akan pernah mampu mereboisasi hutan kembali, tidak akan mampu mengembalikan daun yang sudah gugur dari pohon yang satu pohon dewasa saja bisa mengasilkan 110-130 oksigen per tahun tergantung jenis dan tinggi pohon.
Peran pemerintah minim sekali dalam soal pengawasan, di setiap rezim bahkan. Selama 75 tahun Indonesia merdeka, kita kehilangan sekitar 23 juta hektare lahan hutan, belum lagi sekarang sudah 80 tahun negeri ini merdeka.
Apa yang bisa disinyalir dari peristiwa ini selain mengatakan bahwa sesungguhnya pemerintah tidak pernah 100% peduli terhadap rakyat, undang-undang dan kebijakan yang dibuat hanya untuk mencekik rakyat kok. Bagaimana tidak orang yang membuat dan mengesahkan undang-undang isinya orang-orang serakah. Setiap rezim juga tidak punya solusi terhadap kerusakan alam negeri ini, mereka juga menikmati hasil dari tambang-tambang itu, jangan heran setiap tahun ada saja daerah yang mengalami banjir dan longsor.
Semua makhluk hidup yang harusnya kita jaga bersama-sama dibunuh oleh tangan-tangan rakus yang tidak tau arti kata ucap syukur, berapa banyak satwa yang kehilangan rumahnya, jangankan mau peduli terhadap satwa dan fauna, kita sebagai manusia juga dicekik pelan-pelan oleh mereka-mereka yang tugasnya hanya celoteh kosong di Senayan sana.
Indonesia di masa depan akan kah masih mampu survive atau tenggelam dimakan zaman? Indonesia tidak akan tenggelam oleh zaman, Indonesia akan tenggelam karena ulah perbuatan para babi dan tikus di Senayan dan di Istana yang tidak tau malu dan tanggung jawab.
“Sesungguhnya segala kerusakan di darat dan di laut, sebab ulah perbuatan manusia” (QS Ar-rum ayat 41).
Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran (HR Bukhari-6015).
baca juga: Degradasi Moral Masyarakat Sasak
Penulis: Ramadan Pranata
Editor: Hilyatil Amani
![]()


