KeislamanOpini

Tetaplah Bertahan dalam Ujian Hidup: Belajar Tawakkal dari Kisah Kehidupan

3 Mins read
by.MDP Manusia biasa

Penulis: Muhammad Daden Pratama | Manusia Biasa

Nahwa Media_ Tetaplah bertahan dalam ujian hidup, karena tidak semua penderitaan datang untuk menghancurkan manusia. Ada cobaan yang hadir sebagai cara Tuhan mengguncang kesadaran, menyingkap batas kemampuan akal, sekaligus menguji seberapa jauh hati mampu berserah. Pada saat manusia merasa paling kehilangan arah, di situlah sesungguhnya ia sedang diajak untuk mengenali siapa dirinya dan kepada siapa hidup ini harus dikembalikan. Bertahan, dalam makna ini, bukan sekadar menunggu keadaan membaik, melainkan kesediaan batin untuk tetap tegak, meski hanya dengan seberkas harapan dan keyakinan kepada-Nya.

“Kita mesti banyak belajar” demikian sebuah nasihat yang sering saya dengar, baik itu belajar dari pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain. misalnya, sebuah peristiwa yang menimpa seorang anak muda yang meninggalkan Ibu dan adik perempuannya yang masih gadis beserta tunangannya, ia pergi merantau ke negeri orang untuk bekerja mencari nafkah. Setelah dua tahun merantau, dia pulang. Didapatinya tunangannya telah kawin, ibunya pun berpulang ke rahmatullâh, dan adiknya menjadi “gila” lantaran kegadisannya dirampas paksa oleh seorang pemuda di kampungnya. Betapa dahsyat ujian si pemuda itu, sehingga dia merasa bahwa harta benda yang dicarinya tidak lagi berguna baginya. Dia duduk di tepi pantai sambil mendengarkan lantunan ombak yang deras sambil meratapi nasibnya. Akhirnya, ia melemparkan semua yang didapatkannya dirantauan ke dalam air. Setelah itu, ia kembali merantau hingga tak pulang-pulang lagi. Ternyata ia mati bunuh diri setelah sampai di negeri orang.

Dari penggalan sedikit kisah tadi kita bisa mengambil pelajaran bahwa alangkah berat ujian dan alangkah dahsyat- nya goncangan kejiwaan itu, yang membuat akal budi seseorang tak mampu lagi berfungsi secara sehat. Inilah hikmah yang amat berharga buat kita yang masih memiliki kesempatan untuk sedikit menyadarkan diri. Bahwa, tatkala usaha manusia telah sampai di ujung kesadaran, yang datang hanyalah kegelapan yang tidak diinginkan dan dia tidak sudi memberikan sedikit ruang untuk menghadirkan Allâh dalam semangat ‘tawakkal’, maka akibatnya justru menyedih- kan. Bahwa, tatkala manusia telah kehabisan akal sehat untuk memahami kenyataan yang dideritanya, maka pasrahlah, dan menyerahlah kepada sang Mahakuasa. Sebab, baik dan buruk, untung dan malang, kalah dan menang adalah karunia-Nya jua. Tidak ada secuil hidup pun di kolom jagat ini lepas dari rencana-Nya.

Sebagaimana dalam kisah Buya Hamka misalnya seorang tokoh yang antara kata dan perbuatannya benar-benar satu itu – pernah mengalami ditahan oleh rezim Orde Lama dan masuk ke kamp konsentrasi. Dalam keadaan hampa nyaris tanpa harapan, setelah disiksa habis-habisan, bahkan (maaf) ditelanjangi kemudian bagian- bagian tubuhnya yang paling vital disetrom, ia sempat teringat akan makna dari sebuah penggalan ayat kursi yang terdapat dalam Al-Qur’ân. Penggalan ayat inilah memberikan semangat buat beliau untuk bertahan, lalu menemukan hidupnya kembali. Ayat itu berbunyi, “Allâhu là ilaha illâ huwal bayyul qayyûm (Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, yang selalu hidup kekal). Begitu kuat keyakinan yang menghunjam di dada Buya Hamka setelah membaca ayat suci itu, membuat bathinnya berbisik, “Allah-lah yang empunya hidup ini, maka Dia-lah yang berhak disembah dan bukan

penguasa kejam yang sedang menaban dan menyiksaku.” Dengan menemukan semangat baru dalam ayat suci itulah membuat Buya Hamka tegar menghadapi goncangan psikologis yang amat dahsyat, malah beliau berhasil melewati tekanan psikologis itu dengan menerjemahkan Al-Qur’ân tiga puluh juz selama dalam tahanan Orde Lama.

Menarik untuk disimak adalah daya tahan kepribadian seseorang kian menguat setelah ia memperoleh benturan hebat. Persoalannya adalah bagaimana caranya agar kita sanggup menangkap “pesan dari setiap musibah secara positif, dan memaknai setiap keberuntungan dengan sikap arif agar menguatkan dan mematangkan pribadi kita? Misalnya, berani menghadapi kenyataan justru di kala kita takut menerimanya, dan siap menerima kekalahan justru di saat kita merasa di pihak benar, namun rendah hati dan penyantun dalam kemenangan? (Hasan M. Noer, Nestapa Spiritual Manusia)

Para ahli agama memberikan dua pilihan. Pertama, menerima setiap kesulitan hidup sebagai isyarat bahwa sinar keberhasilan hampir menjelang, maka bertahanlah. Kedua, menerima setiap keberuntungan sebagai dering peringatan bahwa kemalangan sedang menunggu di depan pintu, maka bersikaplah rendah hati. Sebab, musibah dan keberuntungan adalah cara Tuhan untuk menaikkan atau menurunkan derajat hamba-Nya. Sekarang terserah kita, mau pilih yang mana?

Jadi, sikap yang baik dan benar tatkala menghadapi terpaan badai kedukaan bertubi-tubi adalah “bertahan”, meski hanya dengan sepercik harapan. Bukankah di balik satu kesulitan itu, di sana telah menanti dua kemudahan? Usaha telah kita sandingkan, namun hasil nyata belum jua ditemukan, maka bergegaslah menyongsong karunia-Nya dengan semangat tawakkal, lalu mengiakan dalam lahir dan bathin bahwa hidup ini adalah milik-Nya, maka kepada-Nya jua semua persoalan dikembalikan. Jika sudah demikian, insya Allâh, hati menjadi tenang, nurani menjadi damai, tanpa membuat tubuh menjadi letih.

baca juga:Kejernihan Berpikir dalam Perbedaan: Refleksi Cara Beragama di Tengah Konflik Sosial

Penulis : Muhammad Daden Pratama
Editor : Hilyatil Amani

 

Related posts
OpiniPendidikanSosial

Dari Tontonan ke Tuntunan: Saat Agama Dipelajari dari Algoritma

4 Mins read
Nahwa Media– Agama dipelajari dari algoritma kini menjadi fenomena yang semakin nyata di era digital. Pagi ini, sama seperti jutaan orang lainnya,…
DakwahKeislaman

Cermin Malu Ummat Islam: Ruwaibidhah dalam Islam dan Krisis Kepemimpinan Global

3 Mins read
Cermin Malu Ummat Islam : Saat Ruwaibidhah Berkuasa dan Pemilik Iman Menjadi Buih I. Ruwaibidhah: Ketika Si Bodoh Menjadi Penentu Nasib Dunia…
Opini

Cermin Malu Ummat Islam : Saat Ruwaibidhah Berkuasa dan Pemilik Iman Menjadi Buih

3 Mins read
Oleh : MDP | Manusia Biasa I. Ruwaibidhah: Ketika Si Bodoh Menjadi Penentu Nasib Dunia Sejarah mencatat sebuah ironi besar di jantung…
Berlangganan dengan kami NAHWA MEDIA

Dapatkan Informasi Ter Update Bila Anda Belangganan Dengan Kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *